Nadzira Shafa Ubah Naskah 'Ibadah dan Cinta' Jadi Novel Sekaligus Lagu
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Nadzira Shafa tak hanya tampil di depan kamera dalam proyek film Ibadah dan Cinta. Perempuan muda ini juga mendapat tantangan istimewa untuk mengubah naskah cerita tersebut menjadi sebuah novel.
Tawaran itu datang dari produser, Budi Yulianto, yang melihat kemampuan Nadzira di dunia kepenulisan. Setelah membaca naskahnya, Nadzira merasa kisah Ibadah dan Cinta sangat dekat dengan tema yang selama ini ia gemari, yakni pesantren, percintaan, hingga kehilangan.
“Pak Budi nawarin, ‘kita punya skrip nih, baca aja dulu. Kita pengen skripnya ini dijadikan novel.’ Pas aku baca-baca, ternyata memang ceritanya nggak jauh beda sama niche aku: pesantren, kisah cinta, kehilangan, dan hal-hal lain kayak gitu,” ujarnya di kantor redaksi Vivia Media, Sabtu (5/9/2026).
Bagi Nadzira, proses memindahkan cerita dari format skenario menjadi novel menjadi tantangan baru yang menarik. Ia pun berhasil merampungkan novel berjudul Ibadah dan Cinta sebagai bagian dari perjalanan kreatif proyek tersebut.
| Baca Juga: Berawal dari Skrip Film, Nadzira Shafa Resmi Rilis Novel 'Ibadah dan Cinta'
Tak berhenti sebagai penulis dan pemeran, Nadzira juga menyumbangkan lagu berjudul 'Pulang Abadi'. Lagu itu sejatinya telah ia buat sebelum proyek Ibadah dan Cinta berjalan, namun masih tersimpan dalam bentuk demo.
Saat diperdengarkan kepada produser, lagu tersebut dinilai selaras dengan suasana cerita. Nadzira pun bersyukur potensinya bisa dikembangkan dalam satu karya yang melibatkan banyak disiplin seni.
“Pak Budi suka banget menggali potensi, ‘apa potensimu, mari kita kembangkan di sini’. Akhirnya dari novel, terus joinan di lagu, dan sekarang ikut promo karena ini karya kita bersama,” tutur mantan pasangan mendiang pendakwah Ameer Azzikra yang meninggal dunia pada 2021 silam itu.
Dalam Ibadah dan Cinta, Nazira memerankan karakter Zira, sepupu dari tokoh utama bernama Indah. Ia menggambarkan Zira sebagai sosok perempuan yang pendiam, kalem, dan cenderung menyimpan perasaannya sendiri.
| Baca Juga: Indah Permatasari - Achmad Megantara Kenang Momen Kocak Syuting Film 'Ibadah dan Cinta' di Australia
Karakter Zira disebut berbeda dengan Santun, tokoh lain yang memiliki jiwa lebih bebas serta berani memandang persoalan dari sudut pandang berbeda. Perbedaan dua karakter perempuan ini menjadi salah satu warna dalam cerita yang mengangkat kehidupan pesantren dan dinamika batin manusia.
Lebih dari sekadar karya hiburan, Nadzira merasa Ibadah dan Cinta membawa refleksi tentang iman, pengendalian ego, serta hubungan manusia dengan Allah.
Menurutnya, iman manusia dapat naik dan turun sehingga perlu terus dijaga melalui proses belajar dan perenungan.
“Aku bersyukur banget ada di project ini, naskahnya indah, judulnya indah, dan membawa aku kembali ke identitas yang sudah aku bangun,” pungkas Nadzira. (*)







