Bukan Sekedar Jago Main Gim, Ini Alasan Tubuh Atlet Esports Harus Dilatih
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleSalah satu latihan yang diberikan adalah squat, yang membangun kekuatan tubuh bagian bawah sekaligus memperbaiki postur akibat kebiasaan duduk membungkuk. Squat juga membantu mengaktifkan otot bokong yang melemah serta mencegah nyeri punggung bawah yang kerap dikeluhkan gamer.
Yudhi Esa Saputra, Sport Science-Physical Trainer Timnas Esports Indonesia, menambahkan bahwa kondisi fisik turut memengaruhi kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil keputusan saat bertanding.
| Baca Juga: Marshanda Geluti Hobi Berkebun, Bikin Pupuk Kompos Sendiri dari Sisa Makanan
Denyut jantung yang meningkat akibat tekanan pertandingan dapat membuat atlet lebih mudah kehilangan kontrol, padahal keputusan dalam esports kerap harus diambil dalam hitungan detik. Karena itu, setelah duduk sekitar 30 menit, atlet dianjurkan bergerak atau meregangkan tubuh agar tidak terlalu lama diam.
Gambaran tuntutan ini terlihat dari rutinitas Syauki "Nino" Fauzan, salah satu atlet Timnas. Aktivitasnya bisa mencapai 12-13 jam sehari, mulai dari latihan individu, latihan tim, hingga sesi gym, dengan waktu istirahat pukul 23.00.
Nino mengaku kini rutin berolahraga tiga kali seminggu dan merasakan tubuhnya lebih siap menjalani aktivitas panjang tanpa mudah lelah.
Di luar tantangan fisik, Nino menyebut tekanan terbesar justru datang dari dirinya sendiri, terutama ekspektasi membawa nama Indonesia di kompetisi internasional.
| Baca Juga: Anak Ikut Lari? Jangan Langsung Duduk Setelah Finis, Ini yang Wajib Dilakukan
Meski begitu, ia optimistis timnya bisa meraih emas meski menghadapi Filipina sebagai juara bertahan. Ia pun menekankan pentingnya pendidikan tetap menjadi prioritas di tengah kesibukan sebagai atlet esports.
Manager Tim Nasional Esports Indonesia, Glorya Famiela Ralahalo, mengatakan pembinaan yang serius dan terukur ini membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari klub, keluarga, komunitas, media, hingga masyarakat, agar atlet dapat tampil optimal di kancah esports dunia. (*)






