Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — The Pokémon Company mengumumkan Poke Wayang, proyek kolaborasi yang memadukan karakter Pokémon dengan unsur wayang dan musik gamelan. Pertunjukan ini akan tampil perdana dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 22 Oktober 2026, sebelum kemudian dibawa ke sejumlah sekolah dasar di Indonesia.

Corporate Officer The Pokémon Company, Susumu Fukunaga, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan dunia Pokémon di Indonesia sekaligus berinteraksi dengan budaya lokal.

“Kami telah melakukan kolaborasi bersama dengan wayang sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Dunia yang telah didaftarkan oleh UNESCO,” katanya saat bincang-bincang Future Plans for Indonesia 2026-2027 di St. Regis Jakarta, Senin (14/9).

Pembahasan proyek ini dilakukan bersama tiga kementerian di Indonesia, dan pertunjukan di WCCE nantinya menjadi bentuk pengenalan awal kepada publik.

| Baca Juga: Musikal Absurd Diperpanjang Jadi 90 Menit, Angkat Tema Kehilangan Arah Hidup Lewat Komedi

Pendekatan ini terbilang sederhana, yakni memulai dari karakter yang sudah akrab bagi anak-anak, lalu menjadikannya jalan menuju pengetahuan tradisional yang mungkin belum mereka kenal.

Setelah anak melihat pertunjukan, mereka dapat diajak mengenali sejarah, tokoh, bahasa visual, musik pengiring, hingga proses pembuatan wayang. Dengan begitu, karakter populer bukan menjadi tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih luas.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut wayang sebagai tradisi Nusantara yang usianya dapat mencapai sekitar 1.000 tahun, dan telah tercatat sebagai Masterpiece of Oral Tradition and Intangible Heritage of Humanity UNESCO sejak 2003.

Menurutnya, keragaman budaya Indonesia turut melahirkan berbagai jenis wayang, mulai dari wayang Jawa, wayang Sunda, hingga wayang potehi yang lahir dari akulturasi dengan budaya Tionghoa. Fadli menilai pertemuan wayang dengan Pokémon dapat ditempatkan dalam perjalanan panjang akulturasi tersebut.

| Baca Juga: Purwacarita Borobudur: Jelajah Masa Lalu Lewat AI Tanpa Mengubah Sejarah

“Akulturasi di era modern dengan Poke Wayang ini adalah satu bentuk akulturasi baru, dan saya yakin ini akan mempercepat wayang dikenal di seluruh dunia,” ujarnya.

Meski demikian, kemasan baru ini tidak berarti mengorbankan substansi. Fadli mengingatkan bahwa fungsi wayang sejak dahulu melampaui hiburan semata, karena juga menjadi medium penyampai pesan moral dan kemanusiaan.

Pengetahuan mengenai bahan, teknik, cerita, hingga fungsi sosial wayang tetap perlu diperkenalkan agar pemahaman generasi baru tidak berhenti pada bentuk visual saja.

Kolaborasi budaya populer dengan kesenian lokal sebelumnya juga pernah terjadi lewat batik yang dipadukan dengan karakter Pikachu dan dibawa hingga ke Tokyo.

| Baca Juga: Mackenyu Pemeran Zoro 'One Piece' Bakal Sapa Penggemar di Jakarta

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar berharap pendekatan serupa pada wayang dapat mendekatkan kembali generasi muda dengan tradisi ini.

“Dengan adanya Pikachu, semoga anak-anak muda kita merasakan kedekatan tersebut dan jatuh cinta kembali kepada wayang,” katanya.

Irene menambahkan bahwa semakin luasnya pengenalan wayang juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi kreatif, mulai dari pertunjukan hingga karya musik yang menyertainya.

Pertemuan Pokémon dan wayang menjadi contoh bagaimana warisan budaya mencari cara untuk tetap relevan bagi generasi yang tumbuh akrab dengan karakter digital.

Karakter populer dapat menjadi titik awal, tetapi fondasi berupa sejarah, pakem, cerita, dan nilai wayang tetap harus menjadi inti dari pengenalan tersebut. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: