Kunto Aji Nembang Macapat di Depan Sri Sultan Hamengkubuwono X
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Kunto Aji kembali mencuri perhatian lewat aktivitas yang jauh dari panggung musik modern. Setelah pernah menjadi Linmas di TPS, petugas upacara 17 Agustus, hingga bershalawat bersama kelompok hadroh, kini ia menembang macapat di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Momen tersebut terjadi saat pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di Lapangan Beran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 13 September 2026.
Dalam prosesi pembukaan, Kunto Aji membawakan tembang macapat yang menjadi bagian dari perayaan kebudayaan tahunan tersebut.
Penampilan itu menambah daftar “side quest” Kunto Aji yang belakangan kerap menjadi perbincangan warganet. Bukan hanya dikenal lewat lagu-lagu reflektif dan emosional, musisi asal Yogyakarta tersebut juga beberapa kali hadir dalam momen masyarakat dengan peran yang tidak terduga.
| Baca Juga: Kunto Aji Bicara tentang Kekuatan Bertahan Lewat Lagu 'bERANI'
Pada Pemilu 2024, Kunto Aji sempat ikut bertugas sebagai Linmas dan menjaga TPS di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa bulan setelahnya, ia kembali muncul dalam suasana berbeda ketika mengikuti upacara Hari Kemerdekaan Indonesia di Semarang.
Niat awalnya sebagai peserta upacara justru berubah. Kunto Aji dipercaya menjadi salah satu petugas dan membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pengalaman tersebut rupanya bukan hal asing baginya karena semasa sekolah ia pernah menjalani sejumlah tugas dalam upacara, mulai dari baris-berbaris hingga menjadi petugas.
Peran tak biasa lainnya juga muncul pada 2025. Kunto Aji terlihat ikut bershalawat bersama kelompok hadroh di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.
Video penampilannya ramai dibagikan di media sosial, bahkan membuat warganet melontarkan panggilan jenaka seperti “Gus Mantra-Mantra”.
Kini, dari Linmas, petugas upacara, solis hadroh, hingga nembang macapat di depan Sri Sultan, Kunto Aji menunjukkan sisi lain dirinya yang dekat dengan lingkungan, masyarakat, dan kebudayaan. Berbagai pengalaman itu hadir di luar perjalanan utamanya sebagai penyanyi dan penulis lagu. (*)






