Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Ida juga menceritakan firasat yang muncul sehari sebelum keluarga itu berangkat. Yuli berulang kali berpesan kepada Ida dan saudara lain agar tidak lupa memberi makan hewan peliharaan di rumah.

"Aku besok mau ke Jawa, mau ziarah. Tolong titip kunci rumah. Nanti jangan lupa kasih makan peliharaan, kucing, ikan, burung," kata Ida menirukan pesan Yuli yang diulang beberapa kali.

| Baca Juga: Dari Siaran Radio ke Pita Kuning: Perjalanan Pandji dan Steny Menemani Anak-Anak Kanker

Permintaan itu sempat membuat keluarga heran. "Saya tanya, lho memang kamu nggak balik? Yuli jawab, aku balik lah. Tapi memang aneh permintaannya," ujar Ida.

Kejanggalan lain juga dirasakan keluarga. Rusdiana, ibunda Yuli, selama ini dikenal selalu menolak diajak bepergian. Namun menjelang keberangkatan kali ini, ia justru ingin ikut serta.

"Ibunya Yuli paling susah diajak jalan-jalan, selalu menolak. Tapi kemarin tiba-tiba ingin ikut," kata Ida.

Bagi Ida, kepergian Yuli untuk selamanya bukan hanya kehilangan satu orang, melainkan delapan sekaligus. Sebagai anak semata wayang, kepergian Yuli bersama suami dan orang tuanya membuat rumah keluarga itu benar-benar kosong.

| Baca Juga: Kasus Tupac Shakur: 30 Tahun Menggantung, Juri Hanya Butuh 3 Jam Vonis Sang Pelaku

"Yuli itu anak tunggal, makanya rumahnya sepi, semua sudah tidak ada," katanya lirih.

Ida mengenal Yuli bukan hanya sebagai kerabat, tapi juga sahabat dekat. Keduanya sama-sama kuliah di UIN Samarinda, tempat Yuli menikah dengan Abdi Noor saat masih menempuh pendidikan.

Ida menggambarkan sosok Yuli sebagai perempuan tomboi yang mudah bergaul dan sempat merintis bisnis kosmetik serta pakaian. Keluarga Mahsan sendiri, menurut Ida, dikenal sebagai keluarga yang dermawan. "Saya bersaksi dia orang baik," ujarnya.

Tragedi yang menewaskan ratusan orang dan membuat puluhan lainnya masih hilang ini terasa makin pilu bagi Ida karena mengingat kebiasaan keluarganya saat bepergian.

1 2 3

Tags: