Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Kawai Labiba menambah panjang daftar aktris muda yang dikenal penuh talenta. Sukses mencuri perhatian lewat film 1 Kakak 7 Ponakan dan Operasi Pesta Copet, aktris kelahiran 4 Juli 2003 ini kini didapuk sebagai pemeran utama dalam 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'.

Proyek besutan sutradara Rizal Mantovani ini menjadi film horor kedua bagi Kawai setelah sebelumnya membintangi Kitab Sijjin & Illiyyin. Dalam film ini, pemilik nama lengkap Kawai Labiba Mathilda Ahmad ini memainkan karakter Putri.

Setahun kabur dalam kondisi sakit parah usai melahirkan, Putri pulang ke rumah. Tak lama ia meninggal dalam keadaan mengenaskan, arwahnya justru gentayangan dan meneror keluarga serta warga sekitar karena ada rahasia dan penyesalan masa lalu yang belum tuntas.

Memerankan karakter ganda memberikan tantangan tersendiri bagi Kawai, baik secara psikologis maupun teknis di lapangan.

| Baca Juga: Kawai Labiba, Denisha Wahyuni dan Fadi Alaydrus Bagikan Fakta Film 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'

"Di film ini aku memerankan Putri ketika dia masih hidup—walaupun memang sudah sakit—dan ketika dia sedang gentayangan. Pas masih hidup untungnya banyak drama keluarganya, dan secara pergerakan memang enggak terlalu banyak karena dia terbaring sakit," kata Kawai Labiba saat media visit di kantor Vivia Media Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Tingkat kesulitan makin bertambah saat ia harus berakting sebagai sosok halus. Kawai harus menggunakan kombinasi riasan efek praktis (practical effect) hingga CGI.

"Tapi ketika sudah menjadi spirit, itu adalah sebuah tantangan yang luar biasa. Nah, untuk yang practical effect, itu memang aku di-makeup seluruh tubuh. Bukan cuma luka-luka, jadi untuk si Putri ini ada tujuh fase makeup," ungkapnya.

Lakoni 7 Fase Riasan Ekstrem

Kawai merinci transformasi fisik karakter yang ia lakoni secara bertahap sepanjang film berlangsung. Dari tujuh makeup itu, ia merinci keadaan Putri saat fase sehat, sakit, lalu lima fase ke belakang itu ada fase menjadi hantu yang beda-beda. Ada yang berdarah, ada yang cuma kotor saja, dan lain-lain.

| Baca Juga: 4 Tahun Belajar Bahasa Thai, Gandhi Fernando Jadi Sutradara Series Thailand

"Detail-detailnya memang agak susah dijelaskan ya, nanti bisa ditonton langsung di filmnya. Itu menantang banget, karena tes makeup pertama kali itu memakan waktu 1,5 jam," ujarnya.

"Itu di awal saat tes makeup doang lamanya 1,5 jam. Terus, ketika sudah mulai terbiasa, paling cepat sekitar 40 menit di-makeup-nya. Ada yang pakai lateks, ada yang dihijaukan," tambah Kawai.

Terhalang Lensa Kontak dan Lakukan Adegan Ekstrim

Tantangan fisik terberat dirasakan Kawai saat mengenakan lensa kontak khusus berukuran penuh (sclera lens) yang menutup seluruh permukaan matanya hingga ia tidak bisa melihat sama sekali.

"Aku cuma bisa mendengar suara doang. Jadi arahan atau hint saat syuting sering kali cuma dari suara: 'Kamu kurang ke kanan sedikit, nanti maju tiga langkah, bla bla bla.' Dan itu yang bikin susah, ketika membagi fokus kepala antara teknikal serta drama dan emosi yang harus tetap ada," jelasnya.

| Baca Juga: Cerita Venly Arauna Dapatkan Peran Daniel di Sekuel Film Kuasa Gelap

Pemakaian kontak lensa memiliki risiko tinggi terhadap indra penglihatannya, sehingga membutuhkan perhatian medis ekstra di lokasi.

"Cuma untungnya dari tim makeup dan tim produksi sangat tanggap. Kalau mataku mulai kena asap, langsung dilepas dan dikasih tetes mata dulu. Berapa lama pakainya tergantung durasi syuting scene-nya," tutur Kawai.

Kondisi hampir 'buta' itu tetap ia jalani sembari melakoni adegan aksi yang membahayakan menggunakan tali penahan (sling) tanpa bantuan pemeran pengganti penuh. Pemeran pengganti disediakan untuk scene-scene yang jauh saja atau yang kebutuhan shot-nya cuma dari belakang.

"Sementara untuk scene Putri yang harus kelihatan mukanya, serta kebanyakan adegan sling, tetap aku sendiri yang melakukan karena butuh ekspresi wajahku," tegasnya.

Adegan Bersimbah Darah dan Pendampingan Sang Ayah

Potongan cuplikan adegan Kawai yang duduk bersimbah darah di bagian perut turut menjadi sorotan publik. Kawai menceritakan proses panjang di balik adegan itu.

"Rasanya lebih ke dingin, ya. Karena efek darah buatan (practical effects) itu ada beberapa jenis: darah encer, darah kering, dan darah berbentuk gel. Di adegan itu semuanya dipakai. Aku harus bertahan (stay) di posisi itu dalam waktu yang cukup lama dan saat itu sudah malam, jadi lumayan dingin," beber Kawai.

Ia juga harus memperlibatkan emosi batinnya untuk memvisualisasikan batas akhir hidup manusia. Saat proses pengambilan gambar, Kawai membayangkan rasa sakit luar biasa yang dialami almarhumah Putri jika itu terjadi di dunia nyata.

"Membayangkan berada di ambang kematian itu memberikan pengalaman emosional yang sangat berkesan dan mendalam. Aku sampai latihan mengatur napas tersengal-sengal untuk adegan tersebut. Prosesnya panjang, seru, tapi juga menguras emosi dan terasa sedih," paparnya.

| Baca Juga: Dito Darmawan Jalani Makeup Rumit Selama 2 Jam Demi Cosplayer Pocong

Untuk menjaga kestabilan akting dan fisik, Kawai tetap didampingi sang ayah serta tim pelatih profesional selama proses pra-produksi.

Ayah Kawai, Adjie Na, seorang sutradara teater dan pelatih akting (acting coach) film yang merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta pendiri komunitas Teater Peqho.

"Sempat didampingi sama Ayah, tapi lebih ke memastikan saja apakah pendalaman karakternya sudah aman dan tidak ada kendala. Selebihnya untuk konsultasi akting, aku tetap ke Om Derry dan Mas Qomar selaku acting coach di produksi ini. Kemarin yang paling banyak kulatih adalah olah tubuh, karena ada beberapa adegan yang membutuhkan fisik ekstra," tutup Kawai. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: