Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Masa pubertas membawa berbagai perubahan tubuh, mulai dari pertumbuhan fisik, produksi keringat yang meningkat, hingga munculnya bau badan. Meski normal, perubahan ini tidak selalu mudah diterima remaja.

Rasa malu, canggung, bahkan menurunnya kepercayaan diri kerap muncul, terutama karena penerimaan lingkungan dan penilaian teman sebaya sangat diperhatikan pada usia ini.

Child & Family Expert, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., mengatakan orang tua sebaiknya tidak menunggu hingga anak bermasalah atau ditegur lingkungan untuk membicarakan perubahan tubuh.

“Sejak tanda-tanda pubertas mulai muncul, orang tua dapat membantu anak memahami perubahan tubuhnya sekaligus secara bertahap meningkatkan kemandirian dalam personal hygiene,” ujar Vera saat bincang-bincang Growing Up with Confidence bersama Nuvo Family Deocare di Summarecon Mall Kelapa Gading 3, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

| Baca Juga: Belajar dari Hyper Potatoes: Cara Gen Z Tetap Bertumbuh Tanpa Kehilangan Hobi Masa Kecil

Menurutnya, reaksi anak terhadap perubahan tubuh tidak selalu berlebihan, sebab perubahan pubertas turut memengaruhi emosi dan respons sosial remaja, bukan sekadar organ reproduksi.

Orang tua perlu membantu anak membangun kesadaran diri, mengenali emosinya, dan memahami bahwa perasaan tersebut bisa dipelajari serta dikelola. Mengajak anak berbicara tanpa kesan menginterogasi, serta mendengarkan tanpa buru-buru mengoreksi, dapat membuat anak lebih terbuka.

Selain sisi emosional, kebersihan diri menjadi perhatian penting selama pubertas. Vera menekankan, mengajarkan kebiasaan merawat tubuh perlu disertai penjelasan alasannya, bukan sekadar instruksi.

“Remaja perlu didorong agar mampu membuat pilihan untuk perawatan dirinya sendiri. Kita juga perlu menjelaskan bahwa perubahan tubuh yang mereka alami merupakan hal normal, sehingga mereka tidak perlu merasa malu terhadap keringat atau aroma tubuhnya,” ujarnya.

| Baca Juga: Fedi Nuril Dapat Pelajaran Soal Parenting Anak Remaja di Film 'Bapakmu Kiper'

Marketing Manager Personal Care Category WINGS Group Indonesia, Mita Ardiani, menambahkan bahwa remaja semakin aktif mengeksplorasi berbagai hal seiring bertambahnya aktivitas, sehingga kebutuhan akan solusi perawatan tubuh yang menjaga kesegaran sekaligus kulit menjadi penting.

Memasuki masa remaja, pendekatan orang tua pun perlu berubah, dari yang semula mengambil alih urusan perawatan diri menjadi memberi ruang bagi anak untuk mandiri, tanpa membiarkannya menghadapi perubahan tersebut sendirian.

Vera menyarankan orang tua menghindari komentar yang mempermalukan atau menjadikan perubahan tubuh sebagai bahan candaan.

“Orang tua perlu membantu anak mengenali emosinya. Misalnya, dengan bertanya apakah ia sedang sedih, kecewa, atau stres. Setelah itu, validasi perasaannya dan tanyakan apa yang bisa kita lakukan agar ia merasa lebih baik,” tuturnya.

| Baca Juga: Sudah Diet dan Olahraga tapi Berat Badan Tak Turun? Ini Penjelasan Dokter

Pengalaman serupa disampaikan Sandy Kristian Waluyo, peserta Clash of Champions musim pertama. “Dari pengalaman itu, aku jadi sadar bahwa menjaga kebersihan dan merawat diri bukan cuma soal penampilan, tetapi juga supaya kita merasa nyaman dan lebih percaya diri dalam menjalani berbagai aktivitas,” ujarnya.

Vera menegaskan, memasuki masa remaja berarti anak mulai beralih dari kebiasaan dirawat menjadi belajar merawat dirinya sendiri. “Ketika masih kecil, anak dirawat oleh orang tua. Namun, saat memasuki masa remaja, mereka mulai belajar merawat dirinya sendiri,” tandasnya.

Dengan komunikasi terbuka dan pendampingan yang tidak menghakimi, remaja dapat lebih siap menghadapi perubahan tubuh dan emosinya, sekaligus membangun kepercayaan diri dengan memahami dan menerima dirinya sendiri. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: