Dua Kali Disuntik Mati, Narapidana Wanita AS Ini Tetap Hidup!
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Terpidana kasus pembunuhan asal Amerika Serikat, Christa Pike, dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah eksekusi mati dengan suntikan mematikan gagal mengakhiri hidupnya.
Dilansir dari NBC News, Sabtu (2/10/2026), eksekusi tersebut dilangsungkan oleh otoritas negara bagian Tennessee pada Rabu (30/9/2026) malam waktu setempat.
Pihak berwenang telah menyuntikkan dua suntikan berisi cairan pentobarbital, obat keras golongan barbiturat yang bekerja dengan cara menekan aktivitas sistem saraf pusat. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Alih-alih meninggal dunia, Christa Pike masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
| Baca Juga: Ada Suami Sandra Dewi, MAKI Bongkar Daftar Napi Penghuni Lapas 'Mewah' Cibinong
Menurut kesaksian dari beberapa wartawan yang menyaksikan proses eksekusi secara langsung, mereka mengaku mendengar dengkuran dan suara Pike mengeluhkan sakit pada lengannya.
Wanita itu juga disebut sempat menendang-nendang kaki hingga seprai yang menutupi tubuhnya terjatuh. Bahkan, setelah suntikan dosis ke dua diberikan, suaranya masih terdengar.

Setelah eksekusi gagal, Christa Pike langsung dilarikan ke rumah sakit. Salah seorang pengacaranya mengatakan bahwa wanita berusia 50 tahun itu mendapatkan tindakan medis untuk menyelamatkan nyawanya.
Otoritas Tennessee belum memberikan penjelasan mengenai alasan dua suntikan pentobarbital tidak menyebabkan kematian.
| Baca Juga: Dugaan Mahasiswi Cornell University Dirudapaksa 7 Pria Hebohkan AS, Begini Kronologinya
Di sisi lain, tim hukum Pike menduga obat yang digunakan kemungkinan telah mengalami penurunan kualitas, sehingga efeknya tak lagi manjur.
Namun, pihak otoritas Tennessee menegaskan bahwa cairan kimia yang mereka gunakan untuk protokol eksekusi mati selama ini selalu bekerja efektif.
BBC melaporkan bahwa penggunaan pentobarbital sebagai 'alat' untuk eksekusi mati sebenarnya sangat kontroversial. Pemerintah federal AS sempat melakukan peninjauan ulang karena menilai adanya kemungkinan obat tersebut memberikan rasa sakit dan penderitaan tidak perlu.
Perdebatan mengenai penggunaan pentobarbital semakin memanas setelah insiden kegagalan eksekusi mati Christa Pike.
| Baca Juga: Jasad Surakman, ABK Kapal yang Membawa 5 Jurnalis Ditemukan di Pulau Enggano
Siapa Christa Pike?
Pike terjerat kasus pembunuhan pada 1995 silam ketika usianya masih 18 tahun. Kala itu, ia bersama kekasihnya, Tadaryl Shipp, dan temannya, Shadolla Peterson, membunuh teman sekelasnya, Colleen Slemmer.
Setelah dilakukan penyelidikan, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.
Menurut dokumen pengadilan, seperti yang dikutip dari USA Today, Pike melakukan aksi keji tersebut karena meyakini korban menyukai kekasihnya.
Jaksa menuliskan laporan bahwa Pike melukai perut korban menggunakan pisau. Saat korban meminta ampun, ia justru semakin menyerangnya dengan membabi buta, termasuk menendang wajah hingga menghantam bagian belakang kepala korban menggunakan batu.
| Baca Juga: Mirip Jennifer Lopez, Mugshot Pelaku Pencurian Baterai Ini Viral
Parahnya lagi, Pike dituding memamerkan potongan tengkorak korban kepada seorang teman.
Bagaimana Nasib Christa Pike Setelah Gagal Dieksekusi Mati?
Saat ini, Pike masih menjalani perawatan medis. Belum ada informasi lebih lanjut apakah wanita itu akan menjalani eksekusi lagi. (*)







