Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Tantangan Akting Film Pertama

Meski sebelumnya pernah menjadi aktor dalam pertunjukan panggung, Hanna mengaku sempat tidak percaya ketika dirinya dipilih oleh Kamila Andini untuk memerankan karakter remaja disabilitas di lereng Gunung Bromo.

Bagi Hanna, tantangan terbesar justru datang dari perbedaan teknik akting film dengan musikal atau teater yang selama ini lebih dikenalnya.

Ia mengaku belum banyak memahami karakter dan teknik akting untuk film ketika pertama kali mendapatkan peran tersebut.

| Baca Juga: Kisah dari Rumah 'Istimewa' Dibawakan Para Penyandang Disabilitas ke Layar Lebar

"Tanganannya adalah, saya sebenarnya tidak tahu tentang film, karakternya seperti apa, akting-nya bagaimana untuk film. Saya terbiasa akting untuk musikal dan teater," ungkap Hanna.

Menurutnya, akting di depan kamera membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jika dalam teater atau musikal ekspresi pemain harus dibuat lebih besar agar dapat terlihat oleh penonton, akting film justru menuntut permainan yang lebih natural.

"Ternyata berbeda sekali teknik aktingnya," jelasnya.

Pengalaman tersebut membuat Hanna harus kembali mempelajari cara membangun karakter ketika berada di depan kamera.

| Baca Juga: Debut Memukau di AS, ‘Ghost in the Cell’ Raih Rating Sempurna di Rotten Tomatoes

Belajar Home Sign untuk Karakter Raras

Tantangan lain yang dihadapi Hanna adalah penggunaan bahasa isyarat. Dalam kesehariannya, Hanna terbiasa menggunakan Bisindo atau Bahasa Isyarat Indonesia.

1 2 3

Tags: