Freya JKT48 dan Emir Mahira Bicara Dilema Persahabatan dan Bisnis di Film 'Harga Teman'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Di tengah gempuran film horor, 'Harga Teman' menawarkan kisah berbeda. Film drama komedi Indonesia produksi Rekata Studio ini diadaptasi dari novel Harga Teman: Design, Resign, Redesign karya Debora Danisa.
Film tersebut mengangkat kisah persahabatan yang berhadapan dengan konflik bisnis, terutama ketika hubungan pertemanan mulai bersinggungan dengan tuntutan profesionalisme.
Freya JKT48 dipercaya memerankan Uji, seorang desainer grafis asal Dieng yang harus kehilangan pekerjaan impiannya di Jakarta. Untuk mendapatkan karakter tersebut, Freya terlebih dahulu mengikuti proses casting. Ia mengaku sempat gugup karena pengetahuannya tentang kehidupan seorang desainer grafis masih sangat minim.
"Awalnya aku dihubungi oleh tim Rekata untuk mengikuti casting sebagai Uji. Waktu itu aku gugup sekali karena pengetahuan dan duniaku sangat minim tentang kehidupan seorang desainer grafis. Aku bingung harus riset dari mana," kata Freya saat ditemui di International Book Fair di JICC, Minggu (4/10/2026).
| Baca Juga: Hanna Aretha Debut di 'Empat Musim Pertiwi', Bawa Suara Teman Tuli ke Layar Lebar
Freya JKT48 Ganti Penampilan
Bahkan saat audisi, Freya sengaja menyesuaikan penampilannya dengan bayangannya mengenai seorang desainer grafis. Ia mengenakan kemeja santai, celana longgar, kacamata, serta menata rambutnya secara sederhana.
"Aku sengaja berdandan seperti bayanganku tentang desainer grafis: memakai kemeja santai, celana longgar, kacamata, dan rambut dicepol asal-asalan. Aku ingin visual pertamaku sudah mencerminkan karakter Uji," katanya.
Setelah terpilih, remaja 20 tahun ini memperdalam karakter dengan membaca novel berulang kali. Ia juga berdiskusi dan mendapat bimbingan dari sutradara Andrew Kose serta Produser Wregas Bhanuteja.
Untuk memahami dunia kerja sosok Uji, Freya turut bertanya kepada staf manajemen yang memiliki latar belakang DKV atau desain grafis.
| Baca Juga: Debut Memukau di AS, ‘Ghost in the Cell’ Raih Rating Sempurna di Rotten Tomatoes
"Setelah terpilih, aku membaca novelnya berulang kali, banyak berdiskusi dan dibimbing oleh Mas Kose serta Mas Wregas, dan banyak bertanya kepada rekan-rekan staf di manajemen yang memiliki latar belakang DKV/desain grafis untuk memahami ritme kerja dan keresahan mereka," tuturnya.
Emir Mahira Awalnya Casting sebagai Julian
Emir Mahira ternyata tidak sejak awal mengincar karakter Boshi. Ia awalnya mengikuti casting untuk memerankan Julian. Namun, setelah menjalani pembacaan dan uji peran, sutradara melihat sisi lain dari Emir yang dinilai lebih cocok dengan karakter Boshi.
"Jujur, awalnya saya diikutsertakan casting untuk peran Julian. Namun setelah proses pembacaan dan uji peran, sutradara melihat ada sisi lain dari diri saya yang sangat cocok dengan Boshi," ujar Emir.
Menurut Emir, sejumlah karakteristik Boshi justru merupakan sisi dirinya yang belum pernah ia eksplorasi dalam film sebelumnya. Salah satunya adalah kecintaannya terhadap budaya pop Jepang, anime, Dragon Ball, hingga Pokemon.
"Sebenarnya elemen-elemen kepribadian Boshi itu adalah sisi diri saya yang belum pernah saya eksplorasi di film-film sebelumnya: saya sangat menyukai budaya pop Jepang, anime, Dragon Ball, hingga Pokemon," akunya.
Karakter tersebut membuat Emir bersemangat karena ia merasa memiliki kedekatan dengan sejumlah sisi Boshi. Ia menilai Boshi itu karakter yang unik, mungkin bagi sebagian orang terlihat tidak konvensional, tetapi dia sangat jujur, vokal menyuarakan apa yang dia suka,
"Dia itu bangga menjadi dirinya sendiri tanpa memedulikan omongan miring orang lain. Di situ jadi menarik banget," katanya.
Dibangun Layaknya Sahabat Sungguhan
Mengingat cerita Harga Teman berpusat pada persahabatan, chemistry antarpemain menjadi bagian penting dalam proses produksi. Emir mengatakan kedekatan tersebut tidak hanya dibangun ketika berada di depan kamera. Para pemain juga banyak menghabiskan waktu bersama di luar lokasi syuting dengan makan, mengobrol, dan berdiskusi.
| Baca Juga: Jeongyeon TWICE Siap Debut Akting, Jadi Perawat Militer di Film 'New Recruit'
"Alhamdulillah, rekan-rekan bermain di sini orang-orang yang sangat suportif dan luar biasa. Di luar proses syuting, kami banyak menghabiskan waktu bersama, makan bareng, mengobrol, dan berdiskusi," ujar Emir.
Proses syuting berlangsung selama 18 hari, terdiri dari 17 hari di Jakarta dan satu hari di luar kota. Suasana yang cair membuat hubungan para pemain terasa seperti persahabatan sungguhan.
"Kami bahkan melewati masa syuting selama 18 hari (17 hari di Jakarta dan 1 hari di luar kota) dengan suasana yang sangat cair layaknya sahabat sungguhan. Rasanya mengalir secara alami (effortless)," katanya.
Kedekatan itu juga berlanjut setelah proses syuting. Freya mengungkapkan, para pemain memiliki grup WhatsApp bernama "Subjek" untuk bertukar kabar dan mengobrol sehari-hari.
| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Bidik Oscar 2027, Kamila Andini Minta Dukungan Pecinta Film Lokal
"Iya, kami juga punya grup WhatsApp bernama 'Subjek' untuk saling bertukar kabar dan mengobrol sehari-hari. Hubungan kami sudah sangat dekat seperti satu frekuensi," kata Freya.
Pelajaran tentang Memilih Sahabat
Keterlibatan dalam Harga Teman membuat Emir menyadari pentingnya memilih lingkungan pertemanan. Menurutnya, orang-orang yang berada di sekitar seseorang dapat memberikan pengaruh terhadap kepribadian dan proses pertumbuhannya.
"Pelajaran terbesar bagi saya adalah pentingnya memilih lingkaran pertemanan. Ada sebuah ungkapan bijak: 'You are the average of your five closest friends.' Lingkungan tempat kita bertumbuh sangat menentukan kepribadian kita," tutur Emir.
Aktor 29 tahun ini pun menyarankan agar seseorang memilih sahabat yang dapat membuat dirinya menjadi pribadi yang autentik sekaligus memberikan pengaruh positif.
| Baca Juga: Jakarta World Cinema 2026 Hadirkan Karya Film Pemenang Cannes, Venesia, dan Berlin
Sementara itu, Freya menilai Harga Teman mengajarkan pentingnya menghargai diri sendiri atau self-worth. Ia menilai setiap orang berhak memiliki batasan pribadi. "Kita berhak menetapkan batasan (boundaries) pribadi dan tidak perlu takut untuk berkata 'tidak' pada hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman atau tidak dihargai," ujar Freya.
Film Harga Teman dijadwalkan tayang perdana di ajang Jakarta Film Week 2026 yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. (*)







