Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Dengan begitu, proses kreatif tidak hanya berangkat dari asumsi tentang apa yang disukai anak muda, tetapi dari pengamatan terhadap kebiasaan dan kebutuhan mereka.

Motif Orisinal Tetap Dijaga

Meski membuka ruang eksplorasi, Andy menegaskan motif lama tidak boleh ditinggalkan. “Kita sebaiknya tidak meninggalkan motif-motif yang original, tapi kita harus membawa batik yang original itu ke era modern,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar penyederhanaan desain tidak berlebihan. Jika unsur polos terlalu dominan, karakter batik justru dapat hilang. Batik Keris ingin bereksperimen agar identitas batik tetap kuat, tetapi tetap bisa dipakai di era modern.

| Baca Juga: Tak Hanya dari Luar, Yura Yunita Jaga Asupan untuk Rawat Kecantikan

Kerja Tangan di Balik Selembar Kain

Dalam kegiatan tersebut, kain yang digunakan antara lain batik handmade melalui proses cap dan tulis. Sebagian dibuat sebagai unique piece sehingga tidak memiliki replika. Pengerjaan batik tulis tradisional paling cepat sekitar satu hingga dua bulan.

Untuk yang lebih rumit, waktunya bisa enam hingga 12 bulan, bahkan lebih dari setahun, tergantung ukuran canting. Semakin kecil canting, semakin banyak detail yang dikerjakan.

Komisaris Utama Batik Keris, Lina Handianto, menyebut setiap motif menyimpan filosofi dan sejarah Indonesia. “Lebih lagi kami sangat menghargai UKM-UKM yang telah dengan tekun mengerjakan itu,” katanya.

Bagi Andy, tujuan akhirnya sederhana: batik harus tetap hidup. “Kita harus bangga memiliki batik sebagai budaya Indonesia, apalagi yang sudah diakui oleh dunia,” ujarnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: