Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Selama ini batik kerap dipahami lewat motifnya. Namun menurut Direktur Batik Keris, Andy Rusli, sebuah karya bisa disebut batik meski gambarnya bukan motif batik tradisional, asalkan dikerjakan dengan proses malam.

Pemahaman ini membuka kemungkinan baru bagi batik untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Andy menyampaikannya saat kegiatan Batik Keris X PPLIPI - Charity, Fashion Show, Exhibition di Fairmont Jakarta, Jumat (2/10/2026), dalam rangkaian perayaan Hari Batik Nasional.

Menurut Andy, penggunaan malam dalam pewarnaan merupakan unsur penting dalam pengertian batik yang diakui UNESCO. Di sisi lain, ada pula istilah motif batik yang merujuk pada karakter visualnya. Karena itu, sebuah karya bisa disebut batik dari dua sisi.

| Baca Juga: Galeri Rasa Luncurkan Buku Peracik Rasa, Hadirkan 80 Resep dari 8 Juru Masak

“Jadi sebetulnya dinamakan batik itu bisa dilihat dari keduanya. Apakah proses batik tapi motifnya bukan batik, atau prosesnya bukan batik tapi motifnya batik, atau prosesnya batik dan motifnya batik,” jelas Andy.

Ia mencontohkan, gambar ilustrasi yang dikerjakan menggunakan proses malam dapat disebut batik meskipun bukan motif batik tradisional.

Dari Pemakai Menjadi Pencipta

Pemahaman tersebut sejalan dengan upaya Batik Keris menarik minat generasi muda. Selama ini, upaya itu banyak terlihat pada bentuk busana. Batik tidak hanya diolah menjadi kemeja, tetapi juga jaket, rok, abaya, halter, blouse, hingga pakaian tidur.

Andy menilai perubahan bentuk saja belum cukup. Suara generasi muda perlu dilibatkan dalam proses penciptaan. Karena itu, tim pengembangan produk Batik Keris akan terus diperbanyak dengan anak muda.

| Baca Juga: Belajar dari Hyper Potatoes: Cara Gen Z Tetap Bertumbuh Tanpa Kehilangan Hobi Masa Kecil

“Tim product development harus terus diperbanyak tim-tim anak muda, sehingga mereka bisa menyuarakan keinginan anak-anak muda ini di luar itu apa sih,” ujar Andy.

Dengan begitu, proses kreatif tidak hanya berangkat dari asumsi tentang apa yang disukai anak muda, tetapi dari pengamatan terhadap kebiasaan dan kebutuhan mereka.

Motif Orisinal Tetap Dijaga

Meski membuka ruang eksplorasi, Andy menegaskan motif lama tidak boleh ditinggalkan. “Kita sebaiknya tidak meninggalkan motif-motif yang original, tapi kita harus membawa batik yang original itu ke era modern,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar penyederhanaan desain tidak berlebihan. Jika unsur polos terlalu dominan, karakter batik justru dapat hilang. Batik Keris ingin bereksperimen agar identitas batik tetap kuat, tetapi tetap bisa dipakai di era modern.

| Baca Juga: Tak Hanya dari Luar, Yura Yunita Jaga Asupan untuk Rawat Kecantikan

Kerja Tangan di Balik Selembar Kain

Dalam kegiatan tersebut, kain yang digunakan antara lain batik handmade melalui proses cap dan tulis. Sebagian dibuat sebagai unique piece sehingga tidak memiliki replika. Pengerjaan batik tulis tradisional paling cepat sekitar satu hingga dua bulan.

Untuk yang lebih rumit, waktunya bisa enam hingga 12 bulan, bahkan lebih dari setahun, tergantung ukuran canting. Semakin kecil canting, semakin banyak detail yang dikerjakan.

Komisaris Utama Batik Keris, Lina Handianto, menyebut setiap motif menyimpan filosofi dan sejarah Indonesia. “Lebih lagi kami sangat menghargai UKM-UKM yang telah dengan tekun mengerjakan itu,” katanya.

Bagi Andy, tujuan akhirnya sederhana: batik harus tetap hidup. “Kita harus bangga memiliki batik sebagai budaya Indonesia, apalagi yang sudah diakui oleh dunia,” ujarnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: