Cara Menata Area Gaming di Ruang Keluarga agar Tetap Rapi dan Nyaman
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on Google| Baca Juga: Galeri Rasa Luncurkan Buku Peracik Rasa, Hadirkan 80 Resep dari 8 Juru Masak
Tinggi meja dan kursi harus memungkinkan pengguna duduk nyaman, dengan sandaran yang menopang punggung, termasuk bagian punggung bawah, tanpa membuat tubuh membungkuk. Yusuf juga mengingatkan, “Utamakan juga istirahat setiap satu jam. Mata perlu beristirahat setelah digunakan menatap layar dalam waktu lama.”
Pencahayaan pun perlu fleksibel karena ruang keluarga dipakai untuk banyak kegiatan. Penghuni dapat memadukan general lighting berupa lampu plafon untuk menerangi seluruh ruangan, task lighting seperti lampu meja untuk membaca atau bekerja, dan mood lighting yang lembut untuk suasana santai.
Ketiganya tidak harus menyala bersamaan. Hindari pula silau dan pantulan pada layar, serta kontras yang terlalu tajam antara layar terang dan ruangan yang gelap.
Manfaatkan Dinding
Untuk menghemat ruang lantai, manfaatkan dinding dan sudut. Rak dinding atau lemari gantung dapat menyimpan aksesori, sedangkan lemari tertutup menyembunyikan perlengkapan yang tidak perlu terlihat.
| Baca Juga: Bukan Sekedar Jago Main Gim, Ini Alasan Tubuh Atlet Esports Harus Dilatih
Interior Designer Specialist IKEA Alam Sutra, Monika Putrihan, mencontohkan ruang keluarga pasangan muda dengan anak perempuan berusia sekitar tiga tahun, yang harus mengakomodasi kebutuhan bermain gim, area bermain anak, dan area kerja orang tua.
“Dari pengguna ruangannya, kita bisa melihat aktivitasnya apa saja. Setelah itu, kita kumpulkan zona aktivitas yang dibutuhkan, baru kemudian menentukan tata letak ruangannya,” ujar Monika.
Yusuf menambahkan, ruangan dapat dibagi berdasarkan fungsi tanpa sekat permanen, dengan area gaming di dekat televisi. Penyimpanan dinding yang tidak terlalu tebal dan meja bersudut membulat juga membantu menjaga ruang gerak dan keselamatan anak.
Karakter gaming tetap bisa hadir sebagai aksen. “Dari sisi interior, kita ingin ada keseimbangan. Beberapa elemen boleh punya karakter yang lebih kuat, sementara yang lain bisa lebih tenang dan menyatu dengan perabot yang sudah ada,” tutur Yusuf.
| Baca Juga: Marshanda Geluti Hobi Berkebun, Bikin Pupuk Kompos Sendiri dari Sisa Makanan







