Ada Parodi Politik di 'Bapak Paling Jujur', Fajar Nugros Bawa Isu Kejujuran ke Layar Lebar
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Film Bapak Paling Jujur menawarkan premis sederhana yang sekaligus menggelitik: bagaimana jika seorang calon gubernur tiba-tiba tidak bisa berbohong dan kehilangan kemampuan menyaring apa yang ada di pikirannya?
Film drama komedi garapan Fajar Nugros dengan skenario Rino Sarjono ini berpusat pada Jonas Prakoso (Andovi da Lopez), calon gubernur yang terbiasa membangun citra dan memperhitungkan setiap perkataannya. Namun, kutukan dari sang nenek membuat Jonas tak lagi mampu berbohong.
Masalahnya, kejujuran Jonas tidak berhenti pada berkata sesuai fakta. Ia juga kehilangan 'filter'. Semua yang ada di kepalanya bisa langsung terlontar, termasuk hal-hal yang seharusnya dipikirkan ulang atau disampaikan dengan cara yang lebih tepat.
Kondisi tersebut kemudian menjadi sumber kekacauan dalam kampanye, pekerjaan, hubungan keluarga hingga kehidupan pribadi Jonas. Dari situ, film mempertanyakan kembali batas antara jujur, blak-blakan, dan bertanggung jawab.
| Baca Juga: Andovi da Lopez Dalami Buku Machiavelli dan Kant demi Peran di Film 'Bapak Paling Jujur'
Kejujuran yang Jadi Keresahan Universal
Menurut Fajar Nugros, gagasan utama film ini berangkat dari keresahan yang bersifat universal. Premis serupa sebelumnya hadir dalam film Brasil O Candidato Honesto (2014) dan Korea Selatan Honest Candidate (2020), sebelum diadaptasi ke konteks Indonesia.
"Kalau kita melihat cerita ini aslinya ada di Brazil, kemudian dibuat di Korea, dan kemudian dibuat di Indonesia, pastinya kejujuran adalah harapan kita semua, ya," kata Fajar saat ditemui di Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Fajar juga menegaskan bahwa film ini tidak bermaksud mengklaim siapa pun sebagai sosok yang paling jujur. Sebaliknya, proses Jonas menjadi gambaran bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang juga harus terus dipelajari.
"Saya sih cuma mau menyampaikan bahwa kami yang membuat film ini tidak serta-merta mengklaim bahwa kita ini orang paling jujur. Kita juga sedang learning. Memang berat ternyata untuk jujur," ujarnya.
| Baca Juga: 'Pulang Kampung' Rilis Trailer, Film Musikal Batak Tentang Cinta dan Budaya Berlatar Danau Toba
Komedi dengan Cermin Realitas
Meski menggunakan politik sebagai latar, Bapak Paling Jujur tidak semata-mata menjadi film tentang kampanye atau politik.
Kekuatan ceritanya justru terletak pada situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kebutuhan manusia untuk menyaring perkataan demi menjaga hubungan dan keadaan.
Fajar mengakui proses produksi film ini juga menghadirkan kekhawatiran tersendiri karena cerita berusaha memotret realitas yang berkembang di media sosial dan internet.
"Kita bikin ini juga deg-degan karena kita membuat film ini secara jujur: apa yang ada di sosial media dan apa yang ada di internet. Hopefully kita tidak berusaha menyinggung salah satu pihak," tuturnya.
Dengan durasi 103 menit, film ini mengandalkan kekacauan yang dialami Jonas sebagai sumber komedi sekaligus pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih serius: apakah mengatakan semua yang ada di pikiran selalu berarti jujur?
Bukan Sekadar Menghibur
Kehadiran Andovi da Lopez sebagai Jonas menjadi pusat cerita, sementara sejumlah pemain seperti Claresta Taufan, Benidictus Siregar, Soleh Solihun, Nayla D. Purnama, Lolox, Cing Abdel, TJ Ruth, Indy Barends hingga Jeremy Teti turut memperkuat jajaran pemain.
Pada akhirnya, Bapak Paling Jujur memiliki daya tarik bukan karena menawarkan gagasan yang sepenuhnya baru, melainkan karena membawa premis tersebut ke situasi dan konteks yang dekat dengan penonton Indonesia.
Fajar berharap film ini tidak berhenti sebagai tontonan komedi, tetapi juga meninggalkan refleksi bagi penonton.
Bapak Paling Jujur dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
"Hopefully ini jadi pembelajaran, nggak sekadar hiburan saja. Sekarang orang mungkin sedang berhitung apa yang bisa menggerakkan mereka ke bioskop, ya harapan akan kejujuran itu. Semoga setelah selesai menonton, mereka bisa jujur pada diri sendiri," tutupnya. (*)







