Asmara Abigail Ambil Peran Jadi LC di Film 'Sumpah Darah' Usai Putus Cinta
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Mengalami patah hati tidak selamanya membuat seseorang terpuruk. Bagi aktris Asmara Abigail, momen putus cinta justru menjadi pemantik kreativitas untuk melahirkan karya baru.
Pembuktian tersebut ia tunjukkan saat menerima tawaran dari sutradara Cornelio Sunny untuk membintangi film layar lebar 'Sumpah Darah'.
Tak tanggung-tanggung, demi totalitas perannya, Asmara bahkan rela mengubah penampilannya secara drastis dengan memotong pendek rambutnya.
Keputusan aktris dan model 34 tahun ini memangkas rambutnya ternyata bertepatan dengan kandasnya hubungan asmaranya.
| Baca Juga: Tantangan Fisik Tanta Ginting, Chika Waode dan Amel Carla Saat Syuting Film 'Ghosthing'
Kesempatan bermain di film Sumpah Darah dinilainya sebagai momen yang tepat untuk mengeksplorasi penampilan yang belum pernah ia tampilkan di layar lebar sebelumnya.
"Nah itu baru putus, jadi potong rambut. Terus kayak aku belum punya film yang aku rambutnya pendek kan, jadi kayak why not," ungkap Asmara Abigail saat ditemui di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (10/10/2026).
Bagi Asmara, masa-masa setelah putus cinta justru menjadi fase yang sangat produktif dalam hidupnya sebagai seorang pekerja seni.
"Iya, kayaknya menurut aku kalau seniman kayaknya habis putus tuh malah makin berkarya," tambah bintang film Pengabdi Setan ini.
| Baca Juga: Momen Christine Hakim Serahkan Penghargaan Marie Claire Awards Kepada Park Jihoon Curi Perhatian
Terjun Riset Langsung: Ajak Ngobrol 5 LC
Dalam film ini, Asmara dihadapkan pada tantangan akting baru yang belum pernah ia lakoni sebelumnya, yakni memerankan karakter seorang Ladies Companion (LC) alias pemandu lagu di dunia malam.
Guna menyuguhkan penampilan yang autentik dan meyakinkan di depan kamera, Asmara bersama pemain lain, sutradara dan asisten sutradara (astrada) turun langsung ke lapangan untuk melakukan riset mendalam terkait kehidupan hingga gerak-gerik para LC di tempat kerja mereka.
"Jadi saya, sutradara, dan astrada riset gerak-gerik sebagai LC itu seperti apa. Karena beneran waktu itu kita nonton, kita melihat, 'Oh, seperti ini.' Niatnya studi ya, jadi tidak ada apa-apa," tutur Asmara sembari tertawa.
Dalam sesi observasi tersebut, Asmara berinteraksi langsung secara akrab dengan beberapa pekerja LC guna membedah gestur hingga pola komunikasi mereka secara nyata.
"Waktu riset? Empat apa lima orang kita ajak ngobrol, sambil makan kacang. Jadi ya sebagai aktor, tantangan tentunya harus bisa menjadi LC real dan believable,"ujarnya.
Respek Pada Perempuan Pekerja Malam
Saat mendengar curhatan para LC tersebut, Asmara menaruh rasa hormat dan empati yang tinggi terhadap realitas profesi tersebut.
"Menurut aku perempuan dengan pekerjaan apapun, menjadi LC atau apapun pekerjaan yang ada hubungannya dengan dunia malam, antara mereka terpaksa atau pilihan mereka pribadi, itu pekerjaan yang sulit," kata Asmara.
Ia menekankan pentingnya melihat profesi tersebut dari kacamata kemanusiaan dan perjuangan ekonomi seorang perempuan.
| Baca Juga: Malang World Cinema digelar November, Film Peraih Penghargaan Dunia Hadir di Indonesia
"Pekerjaan yang sangat challenging menurut aku.Kita sebagai manusia saling menghargai aja satu sama lain. Sebagai aktor, tantangan tentunya menjadi LC real dan believable," tutupnya.
Film garapan rumah produksi Bushi Bros Films dan Endorphins Entertainment ini dibintangi Asmara Abigail, Dwi Sasono, Ully Triani, Sara Zany, dan Ruth Marini.
Film yang akan tayang 26 November 2026 ini mengisahkan Mara (Asmara Abigail), seorang LC karaoke yang mendapat tawaran menikah dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari Thomas (Dwi Sasono), pria misterius yang baru dikenalnya.
Harapan itu membawanya ke sebuah vila terpencil, tempat Thomas tinggal bersama ibunya (Ully Triani). Namun, kehidupan baru yang semula tampak menjanjikan perlahan memperlihatkan berbagai kejanggalan. Kehadiran sosok ibu Thomas yang misterius semakin menambah kegelisahan Mara. Mampukah Mara mengungkap kebenaran dan menyelamatkan dirinya sebelum semuanya terlambat? (*)







