Aci Resti, Fajar Nugra dan Endy Arfian Belajar Toleransi Lewat 'Hungry Ghost Festival'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Aci Resti, Endy Arfian, dan Fajar Nugra mendapatkan pengalaman baru selama menjalani proses produksi film Hungry Ghost Festival. Tak hanya memadukan horor, komedi, dan drama, film ini juga membawa mereka mengenal tradisi budaya Tionghoa serta memahami nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat.
Tak berhenti pada proses syuting, Aci, Endy, dan Fajar juga mengunjungi kelenteng di Bekasi dan Tangerang untuk melihat langsung ritual Hungry Ghost Festival.
Aci menyebut mereka menyaksikan sembahyang rebutan, pembagian persembahan, serta ritual sebelum patung dibakar. Pengalaman tersebut membuatnya memahami tradisi itu sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur.
“Ada sembahyang rebutan, ada sembahyang untuk sebelum patung itu dibakar. Jadi, sebenarnya mirip-mirip lah, kalau kita Muslim, mendoakan arwah, almarhum dan almarhumah,” tutur Aci saat ditemui di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2026).
| Baca Juga: Endy Arfian Langgar Pantangan di 'Hungry Ghost Festival', Ungkap Ketakutan Saat Syuting
Menurut Aci, Hungry Ghost Festival berlangsung selama bulan ketujuh dalam kalender lunar Tiongkok. Endy menambahkan bahwa rangkaian perayaan tersebut berlangsung selama sebulan.
Aci mengingat kunjungan mereka ke Bekasi berlangsung sekitar 23 Agustus dan 6 September, ia juga menjelaskan bahwa pembakaran patung raja akhirat menjadi bagian dari rangkaian penutupan perayaan.
Tradisi Berbagi Tunjukkan Toleransi
Hal lain yang menarik perhatian Aci adalah pembagian bahan kebutuhan pokok dalam ritual sembahyang rebutan. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi umat yang menjalankan ritual, tetapi juga masyarakat sekitar kelenteng.
“Bukan cuma yang penganut agama Buddha atau yang melaksanakan Hantu Lapar itu. Masyarakat setempat yang tinggal di daerah kelenteng itu boleh ngambil,” kata Aci.
| Baca Juga: Imam Darto Pelajari Langsung Budaya Tionghoa demi Akurasi Film 'Hungry Ghost Festival'
Ia bahkan melihat warga Muslim ikut mengambil bahan kebutuhan pokok yang dibagikan. Pemandangan itu membuatnya menyadari pentingnya menjaga tradisi yang membuka ruang kebersamaan lintas agama.
“Jadi, aku juga ngelihat teman-teman Muslim yang ikutan ambil. Wah, ternyata ini kayaknya emang harus terus dilestarikan. Jadinya toleransi,” ujarnya.
Endy juga menyoroti nilai berbagi yang hadir dalam perayaan tersebut.
“Ada berbagi juga ya, berbagi ke sesama juga,” tambah Endy.
| Baca Juga: Mawar de Jongh Ngaku Termasuk 'People Pleaser', Sering Susah Bilang Enggak
Tertarik Makna Persembahan
Endy mengaku paling tertarik ketika menyaksikan pembakaran patung dan berbagai benda persembahan. Ia menjelaskan, masyarakat membuat perahu dari kertas yang dipercaya menjadi kendaraan bagi arwah menuju alam setelah kematian.
“Jadi, mereka bikin patung dan membuat perahu kertas untuk dibakar karena mereka percaya itu adalah kendaraan untuk arwah-arwah menuju ke alam sana,” jelas Endy.
Mereka juga melihat koper berisi benda-benda persembahan, seperti emas dan uang kertas, pakaian, celana, hingga mobil Aci kemudian mengaitkan tradisi tersebut dengan unsur komedi dalam film Hungry Ghost Festival, yang juga menampilkan motor sebagai salah satu bentuk persembahan.
Sementara itu, Fajar Nugra menilai keterlibatannya dalam film ini menjadi kesempatan untuk memahami pentingnya menghargai budaya yang belum tentu dikenal oleh semua orang.
Ia merasa proses produksi tersebut bukan sekadar pekerjaan akting, tetapi juga pengalaman belajar mengenai toleransi dan cara memandang perbedaan.
Dalam film produksi MPV Picture dan digarapan Imam Darto itu, Endy Arfian memerankan Raka, sosok perfeksionis, kaku, dan disiplin yang menghadapi persoalan keluarga hingga harus mencari jati dirinya.
Perjalanan Raka ditemani dua sahabatnya, Tintin yang diperankan Aci Resti dan Bobby yang dimainkan Fajar Nugra. Ketiganya memiliki karakter berbeda yang menciptakan dinamika tersendiri sepanjang cerita.
Aci menggambarkan Tintin sebagai sosok yang berani, spontan, dan cenderung menjalani hidup tanpa terlalu banyak memikirkan aturan. Sementara itu, Bobby menjadi penengah di antara Tintin dan Raka. Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu sumber komedi sekaligus memberikan warna dalam perjalanan mereka. (*)







