Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Dengan modal awal Rp1 juta, ia berusaha keras mengembangkan usahanya dengan cara membagikan selebaran-selebaran dan mendekatkan diri secara emosional dengan pengunjung.

Usaha Martha berbuah manis. Pada 1972, ia membuka cabang salon ke dua. Di salon itulah, ia mulai menciptakan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal sekaligus memperluas langkahnya ke bisnis kecantikan.

| Baca Juga: Dulu Aktor Cilik 'Descendants of the Sun', Joel Jin Nwamadi Kini Raih Perunggu di Asian Games 2026

Pada 1977, ia mendirikan PT Martina Berto bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady, pendiri Kalbe Group. Mereka kemudian meluncurkan brand Sariayu dan mendirikan pabrik sendiri pada 1981.

Martha Tilaar Group lalu membeli saham PT Martina Berto yang awalnya sempat dimiliki oleh Kalbe Group sebagian pada 1999. Hingga kini, kelompok perusahaan tersebut menaungi 6 Perseroan Terbatas (PT).

Warisan Martha Tilaar

Meski kini perjalanannya di dunia telah berakhir, almarhumah meninggalkan sejumlah warisan, selain aset perusahaan yang diwariskan kepada keturunannya.

Salah satunya yang abadi adalah 'resep' perawatan tubuh dan jamu yang pernah diciptakannya.

| Baca Juga: Suara Khasnya Dikloning AI, Kenjiro Tsuda Gugat TikTok

Semasa hidup, Martha juga dikenal aktif memberdayakan perempuan. Ia mendirikan Puspita Martha International Beauty School yang menyediakan berbagai program pelatihan perawatan kecantikan.

Almarhumah juga membangun Kampoeng Djamoe Organik yang menjadi pusat konservasi, budidaya, dan wisata edukasi untuk melestarikan tanaman obat, kosmetik, dan aromatik asli Indonesia.

Martha Tilaar juga menulis sejumlah buku, di antaranya 'Indonesia Bersolek: Buku Pedoman Seni Rias Indonesia', 'The Power of Jamu', 'Pernikahan Putriku'. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: