In Memoriam Martha Tilaar, Menilik Jejak dan Warisan Sang Maestro Kosmetik Indonesia
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Pendiri Martha Tilaar Group, Dr. (HC) Martha Tilaar, meninggal dunia di usia 89 tahun pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 06.22 WIB di RS Medistra, Jakarta Selatan.
Kepergian sang maestro industri kecantikan Indonesia itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, perusahaan, hingga para pengguna produk ciptaannya.
Jenazah disemayamkan di kediaman keluarga di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Prosesi pemakaman akan dilangsungkan pada Jumat (16/10/2026) di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat.
Untuk mengenang sosok Martha Tilaar, ini kisah perjalanan hidupnya dan sejumlah warisan yang ditinggalkannya.
| Baca Juga: Martha Tilaar Wafat di Usia 89 Tahun, Putra Sulung Ungkap Penyebabnya
Dari Salon di Garasi Jadi Raksasa Kosmetik

Martha Handana alias Tjhie Pwee Giok lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia merupakan sulung dari tiga bersaudara.
Nama 'Tilaar' melekat padanya setelah ia menikah dengan almarhum suaminya, Prof. Dr. Henry Alex Rudolf (H.A.R.) Tilaar, yang meninggal dunia pada 30 Oktober 2019.
Kecintaan Martha terhadap dunia kecantikan tumbuh setelah ia dititipkan oleh ibundanya kepada seorang ahli kecantikan tradisional di Yogyakarta, Titi Poerwosoenoe, yang mengajarinya cara merias diri.
Dulunya, semasa kecil, wanita lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta itu kerap bertingkah seperti lelaki dan enggan merawat diri.
| Baca Juga: Martha Tilaar, Pelopor Industri Kecantikan Indonesia, Berpulang di Usia 89 Tahun
Ia kemudian memperdalam ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, pada 1968. Setelah lulus, ia sempat membuka praktik salon kecantikan di negeri Paman Sam.
Sekembalinya ke Indonesia, Martha membuka salon kecantikan di garasi rumah orangtuanya di Jalan Kusuma Atmaja No.47 Menteng, Jakarta Pusat. Dari sinilah perjalanan Martha di dunia kecantikan Indonesia dimulai.
Dengan modal awal Rp1 juta, ia berusaha keras mengembangkan usahanya dengan cara membagikan selebaran-selebaran dan mendekatkan diri secara emosional dengan pengunjung.
Usaha Martha berbuah manis. Pada 1972, ia membuka cabang salon ke dua. Di salon itulah, ia mulai menciptakan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal sekaligus memperluas langkahnya ke bisnis kecantikan.
| Baca Juga: Dulu Aktor Cilik 'Descendants of the Sun', Joel Jin Nwamadi Kini Raih Perunggu di Asian Games 2026
Pada 1977, ia mendirikan PT Martina Berto bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady, pendiri Kalbe Group. Mereka kemudian meluncurkan brand Sariayu dan mendirikan pabrik sendiri pada 1981.
Martha Tilaar Group lalu membeli saham PT Martina Berto yang awalnya sempat dimiliki oleh Kalbe Group sebagian pada 1999. Hingga kini, kelompok perusahaan tersebut menaungi 6 Perseroan Terbatas (PT).
Warisan Martha Tilaar
Meski kini perjalanannya di dunia telah berakhir, almarhumah meninggalkan sejumlah warisan, selain aset perusahaan yang diwariskan kepada keturunannya.
Salah satunya yang abadi adalah 'resep' perawatan tubuh dan jamu yang pernah diciptakannya.
| Baca Juga: Suara Khasnya Dikloning AI, Kenjiro Tsuda Gugat TikTok
Semasa hidup, Martha juga dikenal aktif memberdayakan perempuan. Ia mendirikan Puspita Martha International Beauty School yang menyediakan berbagai program pelatihan perawatan kecantikan.
Almarhumah juga membangun Kampoeng Djamoe Organik yang menjadi pusat konservasi, budidaya, dan wisata edukasi untuk melestarikan tanaman obat, kosmetik, dan aromatik asli Indonesia.
Martha Tilaar juga menulis sejumlah buku, di antaranya 'Indonesia Bersolek: Buku Pedoman Seni Rias Indonesia', 'The Power of Jamu', 'Pernikahan Putriku'. (*)







