Pemakaman Martha Tilaar Berlangsung Khidmat, Keluarga Janji Lanjutkan Warisan Ibunda
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on Google“Saya bisa membayangkan bagaimana sepak terjang Ibu yang sudah menjamah banyak orang di Indonesia dan luar negeri. Ibu adalah seorang tokoh, seorang legenda. Kami benar-benar baru menyadari bahwa she’s a legend,” katanya.
Di rumah, Pingkan mengaku memiliki karakter yang berbeda dari kakak dan adiknya. Sebagai anak perempuan, ia cenderung keras kepala dan sering berbeda pandangan dengan sang ibu. Namun di balik itu, Martha cukup mengandalkannya.

“Saya selalu bersama Ibu setiap hari. Kalau dari saya sih melihat dia, dia super bawel. Nggak pernah berhenti ngomong gitu loh. Jadi kemarin saya bilang, ya ampun, siapa yang mau bawelin saya lagi ya? Udah nggak ada yang bawelin. Saya sih nggak mau bawelin sama mereka sebenarnya,” kenangnya.
Sebelum meninggal, Martha berpesan agar anak-anaknya meneruskan apa yang telah dibangun puluhan tahun. “Ibu itu selalu mengingatkan sampai terakhir, bahkan ketika masih di rumah sakit, dia selalu bilang, jangan sampai ini selesai, kalian harus tetap melanjutkannya. Karena jika kita tidak melanjutkan, nanti Ibu selalu takut ada yang banyak terdampak gitu. Kami berempat di sini selalu bersama,” tegas Pingkan.
Mendiang Dr. (HC) Martha Tilaar mengembuskan napas terakhir pada Rabu (14/10) pukul 06.22 WIB di RS Medistra, Jakarta, pada usia 89 tahun. Ia dikenal sebagai pendiri Martha Tilaar Group, kelompok usaha yang bergerak di bidang manufaktur dan pemasaran kosmetik serta jamu, pendidikan kecantikan, spa, dan distribusi.
Perjalanan Martha di dunia kecantikan dimulai pada 1970, ketika ia membuka salon sederhana di garasi rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta. Berbekal ilmu kecantikan modern dan terinspirasi pengetahuan tradisional keluarga tentang jamu serta resep kecantikan Keraton Jawa, ia mengembangkan pendekatan yang memadukan ilmu pengetahuan, kekayaan alam, dan kearifan lokal Indonesia.
Melalui berbagai merek yang dikembangkannya, perempuan kelahiran Kebumen, 4 September 1937, itu turut meletakkan fondasi bagi tumbuhnya industri kecantikan lokal yang mengangkat potensi alam dan budaya Indonesia ke panggung global. (*)







