Pop Sunda Pernah Berjaya, Bisakah Tradisi Tetap Hidup di Tengah Zaman yang Berubah?
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Di tengah derasnya arus informasi, karya yang tidak ramai diperbincangkan berisiko tersisih. Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi kesenian tradisional, yang keberlangsungannya tidak selalu ditentukan oleh seberapa luas ia dikenal publik. Bagi Happy Salma, menjaga tradisi justru membutuhkan keyakinan bahwa nilai sebuah karya tidak diukur dari popularitasnya.
“Kadang-kadang sesuatu yang bagus itu dianggap penting dan eksis berdasarkan dari dia viral atau tidak. Tetapi kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral,” ujar pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi dalam konferensi pers.
Pandangan itu menjadi pijakan gerakan Lestari Tradisi, yang tahun ini mengangkat perjalanan seni Sunda lewat tema Bandung 1990. Bandung dipilih karena pada akhir 1980-an hingga 1990-an kota ini menjadi pusat perkembangan Pop Sunda, ketika lagu-lagu berbahasa Sunda meraih popularitas nasional dan Tari Jaipong karya Gugum Gumbira menjadi penanda kuat seni pertunjukan daerah.
Periode itu menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak harus terpisah dari budaya populer. Ketika hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat, tradisi justru dapat berkembang dan menemukan penggemar baru.
| Baca Juga: Alda Callista dari Papua Tengah Jadi Miss Indonesia 2026, Ini Perjalanannya Menuju Mahkota
Lestari Tradisi sendiri berawal dari pertunjukan daring Taksu Ubud di Bali pada masa pandemi, yang menjadi ruang bagi seniman dan sanggar untuk tetap berkarya. Pengalaman itu mendorong Happy membawa gerakan serupa ke Jawa Barat, tanah kelahirannya.
Pada 2023, Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar Lestari Tradisi: Sukabumi 1980, lalu berlanjut tahun ini lewat Lestari Tradisi: Bandung 1990.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menilai pelestarian budaya tidak cukup dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga perlu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat.
“Bagi kami, menjaga budaya tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga memberi ruang agar masyarakat bisa mengenal, menikmati, dan menjadi bagian darinya,” ujarnya.
| Baca Juga: 15 Jurnalis Naik Panggung Musikal, Hidupkan Kisah Ismail Marzuki
Pendekatan itu terlihat dalam rangkaian acara di Bumi Sangkuriang, Bandung, Sabtu (17/10). Selain pertunjukan, pengunjung bisa menjumpai kupat tahu, surabi, mi kocok, dan cuanki, serta kerajinan batik, pernak-pernik angklung, hingga jamu tradisional.
Sesi unjuk bakat dan lomba kesenian membuka ruang bagi sanggar dan seniman lokal, sedangkan malam harinya musik dan tari mempertemukan berbagai generasi. Doel Sumbang, Dewi Gita, Candil, Ujang Darso, dan Rehan Darso termasuk seniman yang tampil, bersama Saung Angklung Udjo, Jugala Jaipongan, dan SambaSunda. Lagu “Bubuy Bulan” menutup acara dengan nyanyian bersama para hadirin.
Meski demikian, persoalan yang lebih mendasar tetap terletak pada keberlanjutan kesenian setelah panggung selesai. Regenerasi membutuhkan kesempatan belajar, ruang berkarya, dan apresiasi yang tidak hanya muncul ketika sebuah acara berlangsung.
Pelestarian tradisi juga menyangkut para penjaga pengetahuan budaya yang bekerja jauh dari sorotan. Kisah mereka diangkat Happy lewat serial dokumenter Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya), yang diproduksi bersama Puri Aksara dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation.
| Baca Juga: Museum Bing Slamet Resmi Dibuka, Ini Koleksi dan Fasilitas yang Bisa Dilihat
Serial tiga episode ini disutradarai dan dipandu Happy, dengan latar Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, mengikuti masyarakat yang menenun kain Futus, membuat perhiasan tradisional, dan meneruskan musik tradisi. Serial tersebut tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai Senin (19/10).
Pada akhirnya, merawat budaya bukan berarti menolak perubahan. Pengalaman Pop Sunda era 1990-an memperlihatkan bahwa tradisi dapat berkembang ketika bertemu bentuk ekspresi baru, selama perubahan itu berjalan bersama pemahaman terhadap nilai yang menjadi akarnya.
Seperti ditekankan Happy, sesuatu yang bernilai tidak harus viral untuk layak dipertahankan. Tantangannya adalah memastikan generasi mendatang tidak hanya mengenal tradisi sebagai masa lalu, tetapi juga meneruskannya sebagai bagian dari masa depan. (*)





