ADA Band Terlibat di Konser Simfoni, Melawan Kanker lewat Kesadaran dan Kepedulian
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Kanker tidak selalu datang dengan gejala yang mudah dikenali. Keluhan yang dianggap ringan bisa membuat seseorang menunda pemeriksaan hingga penyakit terdeteksi pada stadium lanjut. Pengalaman kehilangan sahabat akibat kanker usus stadium empat menjadi pengingat bagi vokalis ADA Band, Indra Sinaga atau Naga, tentang pentingnya deteksi dini.
Sahabatnya semula mengira sakit perut yang dialami hanya gangguan lambung. Setelah diperiksa, ia didiagnosis kanker usus stadium empat dan meninggal dunia tiga bulan kemudian. Pengalaman itu mendorong ADA Band terlibat dalam konser amal Simfoni Selalu ADA Harapan, bukan sekadar untuk bermusik, tetapi juga menyampaikan pesan kesadaran kanker.
“Kanker ini penyakit yang mungkin tidak langsung kelihatan. Kita tidak selalu tahu di mana penyakit itu hadir, padahal masing-masing dari kita punya kemungkinan untuk terkena kanker,” kata Naga saat pra acara konser di kantor Pusat YKI Menteng, Jakarta, Rabu (21/10).
Konser amal yang digagas Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama Perempuan Laju Perkasa (PALAPA) itu akan berlangsung pada Sabtu, 14 November 2026, di The Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta. Penyelenggara ingin memperluas kepedulian terhadap kanker sekaligus menghimpun dukungan bagi program penanggulangannya.
| Baca Juga: Pop Sunda Pernah Berjaya, Bisakah Tradisi Tetap Hidup di Tengah Zaman yang Berubah?
Nama ADA merupakan singkatan dari Awareness, Deteksi Dini, dan Aksi. Musik dipilih sebagai medium agar pesan kesehatan lebih mudah diterima dan diingat.
Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Ketua Panitia, DR. dr. Sonar Panigoro, dokter bedah onkologi, mengatakan pasien yang datang pada stadium lanjut masih menjadi tantangan. Saat ia masih mahasiswa pada 1978–1980, sekitar 60–70 persen pasien yang ditemuinya sudah berada pada stadium lanjut. Persoalan keterlambatan diagnosis itu, menurutnya, bertahan hingga kini meski akses informasi dan teknologi kesehatan kian berkembang.
“Bukan hanya tahu, bukan hanya sadar. Kita harus mendorong masyarakat agar mau melakukan pemeriksaan. Menurut saya, hambatan selama saya menjadi dokter adalah komunikasi,” ujar Sonar.
Karena itu, edukasi perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan disertai ajakan konkret. Kanker juga bukan hanya persoalan medis, melainkan beban emosional, sosial, dan ekonomi bagi keluarga pasien.
| Baca Juga: 15 Jurnalis Naik Panggung Musikal, Hidupkan Kisah Ismail Marzuki
Ketua Umum YKI, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, menegaskan pentingnya dukungan bagi pasien dan keluarga. “Kanker bukan hanya persoalan pasien dan keluarganya. Ini adalah persoalan kita bersama,” ujarnya.
Menghidupkan Kembali Fasilitas Deteksi Dini
Kesadaran masyarakat sulit berujung tindakan bila fasilitas pemeriksaan tidak tersedia. Karena itu, dana yang terkumpul dari konser antara lain akan digunakan untuk memperbarui fasilitas YKI di Lembang, klinik yang sebelumnya dikenal sebagai Pusat Deteksi dan Diagnosis Dini. Sebagian besar peralatannya kini sudah tua.
“Gedungnya sudah sekitar 90 persen, tetapi alat-alatnya baru 20 persen. Jadi, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi,” kata Sonar. Ia menargetkan klinik beroperasi kembali pada Januari mendatang dengan layanan pemeriksaan berbiaya terjangkau tanpa mengabaikan kualitas.
Peran Komunitas Mendorong Perempuan Periksa
PALAPA, organisasi sosial yang berfokus pada perempuan, anak, dan keluarga prasejahtera, telah memfasilitasi mamografi dan USG payudara gratis bagi lebih dari 1.500 perempuan sepanjang tahun ini.
| Baca Juga: Agnez Mo Bakal Punya Patung Lilin di Madame Tussauds Hollywood, Debut Oktober 2026
Ketua Umum PALAPA yang juga Ketua Bidang Organisasi YKI, Hetty Andika Perkasa, bercerita, pada salah satu kegiatan USG payudara gratis, target 200 peserta awalnya sulit terpenuhi karena hanya sedikit perempuan yang mau datang.
Setelah peserta yang telah diperiksa menceritakan pengalamannya kepada tetangga, jumlahnya melampaui 200 orang. Namun, keterbatasan kapasitas alat membuat sebagian perempuan, banyak di antaranya pekerja dan petani, tidak bisa diperiksa hari itu.
“Kepedulian tidak cukup hanya dirasakan. Kepedulian perlu diwujudkan. Kalau ingin membantu, paling gampang dimulai dari diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Ajak mereka mendapatkan edukasi dan melakukan deteksi dini,” kata Hetty.
Dalam konser ini, PALAPA juga membantu menghubungkan penyelenggara dengan para artis, dan Hetty akan membacakan puisi bertema kepedulian dan harapan.
| Baca Juga: Drama Musikal Sirena Tampil Memukau, Rara Sudirman hingga Penyandang Disabilitas Berbagi Panggung Penuh Makna
Musik agar Pasien Tidak Merasa Sendirian
Bagi ADA Band, keterlibatan ini berangkat dari keinginan agar bermusik membawa manfaat bagi orang lain. Sejak tahun lalu, para personel memikirkan cara menggunakan karya mereka untuk kegiatan sosial.
“Pesannya bukan hanya mengumpulkan dana, tetapi juga memberikan harapan bahwa para pejuang kanker tidak sendirian. Mereka tetap harus optimistis dan berjuang dengan karya masing-masing,” kata Naga.
Konser ini juga menampilkan Sonar Panigoro dan dr. Fransisca Badudu, Shelomita, Ronni Waluya dan Sarah Hadju, ADA Band, Krisdayanti, Vina Panduwinata, serta Yongky Vincent & Friends. Fransisca, penyintas kanker, dijadwalkan berduet dengan Sonar pada pembukaan acara.
Pada akhirnya, kesadaran baru bermakna ketika mendorong seseorang bertindak: mencari informasi tepercaya, tidak mengabaikan gejala, memeriksakan diri, dan memastikan pasien mendapat dukungan. (*)





