Bintangi Film 'Yang Disebut Nakal' Boris Bokir Kenang Kenakalan Masa Kecilnya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Stigma terhadap anak yang dicap nakal kerap kali muncul bukan karena mereka berniat jahat, melainkan karena suara dan keinginannya tak pernah didengarkan. Isu inilah yang diangkat dalam film drama-komedi keluarga, 'Yang Disebut Nakal'.
Diproduseri oleh Diana Limbong bersama Ryan Prasetyo sebagai eksekutif produser, film produksi DLK Pictures yang bekerja sama dengan Inhype Pictures ini mengajak penonton mengubah sudut pandang terhadap kenakalan remaja.
Komika sekaligus aktor Boris Bokir turut ambil bagian memerankan sosok Goklas Panjaitan, salah satu pelatih di lembaga pembinaan anak bernama Bina Laku. Keterlibatannya dalam film ini pun membuat Boris mengenang kenakalan masa kecilnya.
Pemilik nama asli Boris Thompson Manullang ini mengaku kenakalannya dulu terbilang sangat ringan dan jauh dari stereotipe anak pembangkang yang ada di film.
| Baca Juga: Pernah Jadi Aktivis Kampus, Dian Sastrowardoyo Ungkap Kenangan Masa Kuliah
"Nakalnya dulu paling udah dibayarin les tapi nggak datang ke tempat les. Makanya agak kurang relate, jauh sekali dari aku. Kalau sekarang mah enggak nakal lah, baik budi gitu," canda Boris seraya tertawa saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
Tinggalkan Pola Asuh Zaman Dulu
Kini, sebagai ayah dari satu putri bernama Shalomita Meister Manullang (Shalom), buah hatinya dari pernikahan dengan mantan istri, Irma Purba, Boris memilih pendekatan yang jauh berbeda dibanding didikan masa lalunya.
Alih-alih mendikte anak dengan pola komunikasi satu arah, Boris memilih untuk selalu mendengarkan apa yang diinginkan oleh sang putri terlebih dahulu.
"Mendidik anak supaya nggak nakal ya kita kasih tahu dengan cara mendengar aspirasinya dia dulu, maunya apa," ujar bintang film Agak Laen Menyala Pantiku ini.
| Baca Juga: Debut Akting di Film 'Pulang Kampung', Vanessa Simorangkir Jalani Latihan Intensif 3 Bulan
Aktor 38 tahun ini menerapkan pola asuh dua arah. Pola tersebut berbeda dengan yang ia terima dari ke dua orang tuanya saat kecil.
"Waktu aku kecil dulu, didikan orang tua seringnya satu arah: 'Udah langsung dengerin, anak saya aja nih.' Makanya kalau sekarang harus lebih banyak mendengarkan, baru dicari formulanya biar ada deal-nya, ada perjanjiannya," jelas Boris.
Persepsi Nakal, Bukan Berarti Jahat
Bagi Boris, label nakal yang melekat pada anak kerap kali lahir dari ketidak mampuan orang dewasa dalam memahami minat sang anak. Menurutnya, energi berlebih dari seorang anak seharusnya diarahkan, bukan langsung dihakimi.
"Persepsi nakal itu karena dia kayaknya belum dipahami dan belum didengar seutuhnya. Misalnya anak senang berenang di sungai sampai sore nggak pulang-pulang, mungkin dia senangnya di air, coba diarahkan," katanya.
| Baca Juga: Cerita Yoriko Angeline Berperan jadi Istri Muda di Film Pirunduk
"Atau anak nge-band sampai malam dibilang anak nakal, padahal sekarang banyak yang jadi musisi hebat. Mereka cuma butuh didengar dan diarahkan. Nakal tuh cuma masalah persepsi," sambungnya.
Berperan sebagai Pelatih di Bina Laku
Dalam Yang Disebut Nakal, Boris memerankan Goklas Panjaitan, salah satu pelatih di Bina Laku, tempat anak-anak dititipkan untuk menjalani pembinaan.
Untuk mendalami karakternya, produksi film ini melibatkan tenaga profesional yang memiliki pengalaman di bidang pelatihan dan pembinaan.
Boris menjelaskan, pihak produksi mendatangkan praktisi yang mengelola institusi pelatihan bersertifikat agar proses penggambaran kegiatan pembinaan tetap sesuai dengan batasan dan prosedur yang semestinya.
| Baca Juga: Skenario Ditulis 3 Tahun Lalu, Hanung Bramantyo Sebut 'Oki dan Nirmala' Relate dengan Karhutla
“Kita sudah kebetulan mendatangkan profesional di bidangnya, yang memang memiliki sebuah institusi pelatihan bersertifikat. Mereka juga tahu batasan-batasannya, bagaimana mengukurnya, apa yang perlu dan tidak perlu,” tutup Boris.
‘Yang Disebut Nakal’ adalah film drama komedi keluarga tentang sekelompok remaja dengan latar belakang berbeda yang menjalani program pembinaan selama 21 hari di sebuah tempat terpencil.
Jauh dari kebiasaan lama, mereka harus belajar menghadapi disiplin, tanggung jawab, pertemanan, kehilangan, rasa malu, dan persoalan keluarga yang selama ini tidak selalu mudah mereka bicarakan.
Film yang akan syuting di Purwakarta ini dibintangi oleh aktor senior Donny Damara, komika dan aktor Boris Bokir, Aming, serta jajaran aktor muda berbakat: El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans , Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya. (*)







