Sherina Munaf dan Zee Asadel Ungkap Sisi Rapuh Karakter di Film Filosofi Teras
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Menangis di rumah dan menangis di depan kamera ternyata dua hal yang berbeda bagi Sherina Munaf. Lewat perannya sebagai Nea dalam film Filosofi Teras, ia harus menampilkan emosi yang selama ini hanya ia rasakan sendiri.
Nea digambarkan sebagai tulang punggung keluarga yang terancam kehilangan pekerjaan. Tekanan itu merembet ke hubungan dengan keluarga dan pergulatannya menghadapi diri sendiri.
Sherina menyebut menangis bukan hal baru baginya, tetapi menunjukkannya secara jujur di depan publik adalah tantangan tersendiri.
"Kalau tadi bilang mengeksplorasi range emosi baru gitu ya, sebenarnya sih itu baru karena ditampilkan di publik. Kalau di rumah sendiri, nangis juga sering, ya nggak, kan? Cuman sekarang ada Mas Fandi (Sutradara Affandi) nemenin di kamera," kata Sherina ditemui di MD Place, Kuningan, Jakarta, pada Selasa (27/10).
| Baca Juga: Rayakan Perjalanan Buku hingga Cetakan ke-100, 'Filosofi Teras' Diangkat ke Layar Lebar
Sherina sengaja tidak mengandalkan pemahamannya sendiri tentang stoikisme saat mendalami Nea. Ia ingin memahami filosofi itu lewat perjalanan karakternya.
"Saya sempat berusaha memberikan jarak dulu dari apa yang sudah saya ketahui tentang stoisisme. Karena itu adalah perjalanannya Nea nanti. Jadi, saya ingin berangkat seolah-olah gelasnya masih kosong dulu," ujarnya.
Diskusi dengan para pemain dan sutradara membantunya menemukan pemahaman baru, bahkan selama syuting berlangsung. Bagi Sherina, pengalaman ini bukan sesuatu yang sulit, melainkan "eye-opening" sebagai aktor.
Ia juga menyampaikan keprihatinan kepada mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), isu yang disentuh film ini.
| Baca Juga: Perdana Akting Kesurupan di Film 'Hajatan Setan', Ari Irham di Makeup Seram 2,5 Jam
"Semoga dengan terus menyuarakan kepedulian dan membuka diskusi, ada sesuatu yang bisa berubah menjadi lebih baik," katanya.
Dari sisi anak muda, Zee Asadel memerankan Runi, adik Nea yang tidak ingin menjadi beban keluarga. Menurut Zee, keinginan menanggung semuanya sendirian muncul karena anak muda kerap memikul ekspektasi orang tua sekaligus ekspektasi terhadap dirinya sendiri.
"Anak muda ini biasanya menerima ekspektasi orang tua dan juga ekspektasi terhadap diri sendiri. Jadi, semuanya terasa harus ditangani sendiri," ujarnya.
Zee juga melihat persoalan komunikasi dalam keluarga Runi. Selisih usia yang jauh dengan kakaknya membuat Runi jarang dilibatkan dalam situasi penting, sehingga ia berpotensi merasa semakin jauh dari keluarga.
Sutradara Affandi Abdul Rachman menegaskan bahwa film ini bukan ajakan untuk bersikap tidak peduli terhadap persoalan hidup atau menekan emosi.
Penonton justru diajak memahami emosi, menerima hal-hal yang berada di luar kendali, dan menentukan respons yang lebih bijak.
"Kita justru lebih menghargai emosi yang ada di dalam diri kita. Emosi itu nyata, kita tidak bisa berbohong. Namun, bagaimana cara kita menghadapinya dan apa yang kita lakukan untuk mengelolanya agar menghasilkan sesuatu yang lebih baik, itu yang ingin kita sampaikan," ujar Affandi.
Penulis buku Filosofi Teras, Henry Manampiring, menekankan bahwa film ini harus bisa dipahami dan dinikmati bahkan oleh mereka yang belum membaca bukunya.
| Baca Juga: Taskya Namya Nangis saat Jalani Adegan Kekerasan Seksual di 'Rambut Sewu: Satu Langkah Getih'
Karena itu, ia sempat mempertanyakan keberadaan teras saat menerima draf awal skenario, sebab elemen tersebut penting untuk menjelaskan judul film kepada penonton.
"Waktu versi awal naskah saya terima, pertanyaan saya justru, 'Terasnya di mana?' Saya percaya film ini harus bisa dipahami dan dinikmati bahkan oleh mereka yang tidak membaca buku saya," ujar Henry.
Filosofi Teras dijadwalkan tayang di bioskop pada 24 Desember 2026. (*)







