Mengejar Glass Skin ala Korea, Mengapa Perawatan Kulit Tak Bisa Disamaratakan?
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Keinginan memiliki kulit cerah dan bercahaya kerap berhadapan dengan persoalan kulit yang berbeda-beda. Paparan matahari memicu noda hitam, bekas jerawat sulit memudar, sementara produk yang terlalu berat di cuaca panas dan lembap justru membuat wajah berminyak dan rentan berjerawat.
Di tengah kondisi itu, tren glass skin dari budaya kecantikan Korea kian menarik perhatian. Kulit yang halus, lembap, dan bercahaya menjadi gambaran ideal banyak orang.
Namun, rutinitas yang berhasil pada seseorang belum tentu memberi hasil sama pada orang lain, terutama bila karakteristik kulit dan lingkungannya berbeda.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Rizky Lendl Prayogo, Sp.DVE, FINSDV, menegaskan bahwa perawatan tidak semestinya hanya berorientasi pada warna kulit.
| Baca Juga: Ampuh Atasi Minyak Berlebih hingga Jerawat, Ini Manfaat Air Garam untuk Kulit Wajah
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya kulit terlihat putih, tetapi bagaimana kondisi kulit itu sendiri. Apakah cukup lembap, teksturnya baik, dan terlihat sehat,” ujarnya saat ditemui di Blink Beauty Clinic Pondok Indah, Kamis (29/10).
Bagi masyarakat negara tropis seperti Indonesia, sinar ultraviolet menjadi tantangan utama. Paparan matahari merangsang produksi melanin, dan bila berlebihan atau tidak merata, muncul hiperpigmentasi, bintik kecokelatan, hingga melasma.
Peradangan juga dapat meninggalkan noda gelap yang bertahan lama, seperti pada bekas jerawat. Selain itu, jerawat tidak selalu berhenti di usia dewasa. Pada usia 30-an hingga 40-an, jerawat masih bisa muncul akibat perubahan hormon, stres, gaya hidup, atau kosmetik yang kurang cocok.
Karena itu, menurut Rizky, penanganan harus dimulai dengan mengenali jenis keluhan. Noda gelap bekas jerawat berbeda dengan jaringan parut yang membuat permukaan kulit berlubang atau menonjol, dan perbedaan ini menentukan pilihan perawatan.
| Baca Juga: Bukan Bikin Mulus, Bahan Dapur untuk Skincare DIY Ini Justru Bahaya untuk Kulit
Ia juga mengingatkan agar perawatan tidak dilakukan berlebihan saat kulit sudah baik, serta diarahkan pada masalah yang ada, bukan sekadar mengikuti tren.
Dalam konsep glass skin, kesan bercahaya tidak hanya bergantung pada warna, tetapi juga kelembapan dan tekstur. Kulit yang terhidrasi baik tampak lebih kenyal dan halus sehingga memantulkan cahaya lebih merata.
Meski begitu, di lingkungan panas dan lembap, produk bertekstur terlalu berat dapat membuat sebagian orang makin berminyak. Pemilihan produk pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan kulit, bukan meniru rangkaian perawatan negara lain.
Salah satu bahan yang lazim dipakai adalah asam hialuronat yang mampu mengikat air untuk menjaga kadar air kulit. Bahan ini ada pada produk topikal yang bekerja di permukaan kulit, juga pada prosedur skin booster yang berupa injeksi dan perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi kulit, tujuan, serta penilaian tenaga medis.
| Baca Juga: Yuki Kato Ungkap Cara Jaga Kulit Sehat di Tengah Aktivitas Padat
Rizky menekankan bahwa hidrasi memang penting, tetapi kulit tidak harus dibuat berminyak agar tampak berkilau.
Dengan demikian, mengejar glass skin tidak berarti harus menjalani prosedur tertentu. Pelembap yang sesuai, tabir surya, dan pemilihan produk berdasarkan kebutuhan tetap menjadi dasar perawatan harian.
Namun, bagi yang tertarik pada prosedur estetika, keinginan berkulit bercahaya saja tidak cukup menjadi dasar keputusan. Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Artini Wijayanti Islami, Sp.DVE, FINSDV, menyebut setiap orang datang dengan kondisi kulit dan harapan berbeda.
Konsultasi menjadi langkah penting untuk menentukan apakah suatu perawatan memang diperlukan. Pemeriksaan membantu dokter menilai kondisi kulit dan menjelaskan hasil yang realistis, sebab perawatan untuk kulit yang ingin lebih halus belum tentu efektif untuk noda hitam atau jaringan parut.
| Baca Juga: Lebih Paham Skincare Dibanding Ayu Ting Ting, Bilqis Spill Produk untuk Jaga Kesehatan Kulit Remaja
Hal serupa berlaku untuk skin booster, yang tidak otomatis dibutuhkan hanya karena usia tertentu atau demi mengikuti tren. Artini menekankan pentingnya memahami tujuan tindakan, termasuk kemungkinan efek samping dan waktu pemulihan, sebelum memutuskan menjalaninya.
Dalam perawatan estetika, tindakan yang tepat tidak selalu berarti yang paling banyak atau paling intensif.
Pada akhirnya, kulit sehat tidak harus seragam atau mengikuti standar kecantikan yang sedang populer. Glass skin boleh menjadi inspirasi, tetapi kondisi kulit masing-masing tetap menjadi dasar menentukan perawatan. (*)







