Memahami Cerita di Balik Kain Tradisional Indonesia
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Kain tradisional Indonesia bukan hanya batik. Masih banyak kekayaan tekstil nusantara, seperti tenun ikat, songket dan kain-kain tradisional dari berbagai daerah yang belum diangkat dalam rancangan busana.
Dan setiap kain itu memiliki karakter serta latar budaya yang berbeda. Ada motif yang tidak bisa dipotong atau digunakan sembarangan berkaitan dengan aturan serta nilai tradisional tertentu.
Dikatakan Ketua Program Studi Diploma 3 Seni Rupa dan Desain, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Maranatha Bandung, Grace Carolline Sahertian, S.Ds., M.Ds., sebelum mendesain, desainer perlu memahami asal-usul serta makna kain.
| Baca Juga: Jakarta Fashion Week 2027: Regenerasi Desainer dan Upaya Bawa Wastra Nusantara ke Panggung Dunia
”Pertama, mau tidak mau kita harus riset dulu asal usulnya. Cari sumber sebanyak-banyaknya, tapi pastikan sumbernya valid,” kata Grace disela-sela kegiatan Fashion Tendance - Elevation 2026 by APPMI Jawa Barat di Imah Seniman Bandung Kamis (5/11).
”Gunakan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti buku dan jurnal akademis,” lanjut lulusan S1 dan S2 Jurusan Kriya Tekstil & Fashion dari Institut Teknologi Bandung itu.
Setelah memahami karakter wastra, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan nilai tradisional itu ke dalam busana yang sesuai dengan perkembangan zaman.
| Baca Juga: Debora Mettu Ceritakan Perjuangan Perempuan Lewat 13 Look, Selipkan Kain dari Limbah Daun Nanas
Di sinilah desainer perlu membaca tren dan mengenali kebutuhan pasar, mulai dari pilihan warna, siluet, hingga gaya yang diminati.
Meski begitu, Grace mengingatkan agar tren tidak ditiru begitu saja. Desainer harus mampu menyaring perkembangan mode dan memadukannya dengan hasil riset budaya sehingga menghasilkan karya baru tanpa menghilangkan karakter wastra yang digunakan.
”Caranya mempelajari data aslinya, memahami tren, kemudian menggabungkan keduanya sehingga menghasilkan desain baru yang relevan dan sesuai dengan pasar yang dituju,” ungkapnya.
| Baca Juga: Dari Popok Kain hingga Mesin Kapsul Jamu, Munculnya Inovasi Berangkat dari Masalah Sehari-hari
Dosen yang juga penyanyi R&B dan masuk nominasi AMI Awards 2026 katagori Duo/Group Kolaborasi Soul/R&B Alternatif Terbaik itu juga mengingatkan tentang perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Itu bisa jadi tantangan sekaligus peluang baru bagi desainer muda. Grace melihat teknologi ini dapat membantu proses eksplorasi. Seperti mencari referensi, mengembangkan konsep hingga memvisualisasikan rancangan busana.
Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat desainer bergantung sepenuhnya pada teknologi. Kemampuan memahami budaya, membangun ide, menggambar, dan mengolah bahan tetap membutuhkan pemikiran serta keterampilan manusia.
”Kita tidak bisa mengandalkan AI tanpa unsur manusia. Pemikiran dan ide kita sendiri tetap harus ada,” tegasnya.(*)







