Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia
Saat ini, selain aktif menjalani profesi sebagai model, Yanu juga bekerja secara freelance untuk sebuah agensi. Dukungan keluarga menjadi salah satu alasan yang membuatnya mampu bertahan menjalani proses tersebut. Sebagai anak tunggal, ia mengaku selalu mendapat restu dari orang tuanya untuk meniti karier di dunia modeling.
Belajar dari Kegagalan
Bagi Yanu, kegagalan justru menjadi bagian yang paling banyak mengajarkan arti proses. Ia mengaku berkali-kali harus menerima kenyataan tidak lolos casting, sesuatu yang hampir dialami setiap model pada awal kariernya.
“Struggle terbesar menjadi model adalah ketika tidak lolos casting. Itu yang paling sering saya alami.”
Meski demikian, ia tidak pernah merasa berada dalam persaingan yang tidak sehat dengan sesama model. Menurutnya, setiap orang memiliki karakter dan keunggulan masing-masing.
| Baca Juga: Anak Disebut Juling, Erika Carlina Langsung Bawa Baby Andrew ke Dokter Mata
“Kalau diremehkan sesama model, sejauh ini tidak pernah. Menurut saya semua model punya standar dan kelebihan sendiri,” tuturnya.
Karakter itulah yang terus ia bangun hingga sekarang. Menurut Yanu, kekuatan utamanya bukan hanya terletak pada postur tubuh, tetapi juga pada gestur, pembawaan saat berjalan di atas runway, dan kemampuannya bereksplorasi dalam setiap penampilan.
“Yang paling menonjol mungkin gestur dan pembawaan saya. Saya juga suka freestyle saat berjalan di runway,” kata Yanu.
Dengan karakter wajah yang tegas, ia melihat pasar Eropa sebagai salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kariernya.
| Baca Juga: Bukan Khawatir, Febby Rastanty Justru Iri Lihat Suami Terjun Payung di HUT Polri ke-80
Paris Fashion Week menjadi panggung yang ingin ia capai suatu hari nanti. Baginya, tampil di ajang tersebut bukan sekadar mimpi pribadi, tetapi juga langkah untuk menembus pasar mode internasional.







