Punya Koleksi 17 Ribu Buku, Habib Jafar Bocorkan Karya Favoritnya
VIVIA MEDIA — Pendakwah sekaligus penulis kenamaan Husein Ja'far Al Hadar, atau yang akrab disapa Habib Jafar, membeberkan sisi lain kehidupannya sebagai kolektor buku sebelum meluncurkan karya film terbarunya, Seni Merayu Tuhan.
Tak tanggung-tanggung, pria 38 tahun yang dikenal dengan gaya dakwah kekinian ini memiliki koleksi sekitar 17 ribu buku di perpustakaan pribadinya yang mayoritas merupakan barang langka.
Habib Jafar mengungkapkan bahwa puluhan ribu buku miliknya bukan sekadar koleksi biasa. Rata-rata buku yang ia simpan merupakan cetakan pertama yang sulit ditemukan di pasaran.
“Aku punya koleksi buku-buku langka, totalnya adalah sekitar 17.000 buku. Itu rata-rata cetakan pertama,” ujar Habib Jafar kepada media di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026).
| Baca Juga: Pasca Rehabilitasi, Onadio Leonardo Jadi ‘Budak Duit’ di Film Seni Merayu Tuhan
Koleksi tersebut didominasi oleh dua tema besar yang menjadi minat utamanya sejak masa muda, yakni filsafat dan agama. Ia menegaskan bahwa setiap buku bertema tersebut yang ada di perpustakaannya adalah hasil kurasi pribadinya sejak masa kuliah.
“Kalau masuk ke perpustakaan saya itu kalau bukunya tema filsafat atau agama, kemungkinan itu buku saya. Jadi buku yang saya beli dan kemudian saya kasih ke mereka dari sejak kecil, kuliah, sampai sekarang. Tapi kalau di luar tema filsafat dan agama kayaknya memang bukan. Jadi minatnya di agama dan filsafat,” jelasnya secara mendetail.
Inspirasi dari 'Man's Search for Meaning'
Di antara belasan ribu buku tersebut, satu karya yang paling membekas bagi Habib Jafar adalah buku karya Viktor Frankl berjudul Man's Search for Meaning. Buku terbitan tahun 1946 itu mengisahkan perjuangan hidup Frankl di kamp konsentrasi Nazi, yang kemudian menjadi fondasi pemikiran Habib Ja’far dalam melihat makna kehidupan.
"Di antara buku yang saya suka itu adalah buku tentang pencarian, karya Viktor Frankl, judulnya 'Man's Search for Meaning'. Dan film ini (Seni Merayu Tuhan), itu bertema yang sama, bagaimana mengajak kita untuk mencari dan makna dalam segala hal," tambah Habib Ja’far.
| Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Kesepian di Rumah, Syuting Jadi Pelarian Karena Dicueki Anak
Kecintaannya pada literasi berlanjut ke dunia perfilman. Buku laris karyanya yang berjudul Seni Merayu Tuhan (2022) kini diadaptasi menjadi film layar lebar di bawah arahan sutradara Cesa David Luckmansyah.
Tidak ingin karyanya kehilangan esensi, Habib Jafar turun tangan langsung mengawal proses produksi, terutama pada bagian skenario.
Ia mengungkapkan bahwa penulisan naskah film ini mengalami proses revisi yang sangat panjang hingga belasan kali demi menjaga kualitas visi dari bukunya.
"Saya terlibat langsung dari awal mulai pembicaraan ide, kemudian setiap penulis skenarionya, dari draf 1 sampai draf 14 waktu itu. Saya ingin karya ini betul-betul sesuai dengan visi, sesuai dengan nilai bukunya, tegak lurus dengan visi bukunya," tegasnya.
| Baca Juga: Yuni Jasmine ‘Barbie Dagu Lancip’ Debut Layar Lebar di Film ‘Pemikat Jiwa’
Dakwah Bioskop Terinspirasi Gus Mus dan Quraish Shihab
Langkah Habib Jafar merambah dunia film bukan tanpa alasan. Ia mengaku terinspirasi dari hasil diskusi dengan tokoh-tokoh ulama besar seperti Gus Mus dan Prof. Quraish Shihab mengenai potensi media film sebagai sarana dakwah yang luas.
"Makanya ada obrolan antara Gus Mus, Prof. Quraish Shihab waktu itu, tentang dakwah by film, bikin dakwah melalui layar bioskop. Ini adalah salah satu puncaknya, buku kemudian menjadi karya, katakanlah karya bioskop yang, ya, senang sekali," ungkapnya.
Habib Ja’far berharap penonton tidak hanya sekadar menikmati alur cerita, namun mampu memetik hikmah nyata dari isu-isu yang diangkat, seperti proses menuju kedewasaan, kehilangan orang terkasih, hingga relasi orang tua dan anak.
Toleransi dan Kisah Cinta 'Beda Server'
Film Seni Merayu Tuhan juga menonjolkan nilai inklusivitas dan toleransi yang kuat. Hal ini tercermin dari pemilihan aktor maupun karakter yang diperankan.
Film ini menampilkan keberagaman agama secara nyata, termasuk menghadirkan konflik percintaan beda keyakinan.
“Film ini secara peran bukan hanya peran Muslim. Ada Lutesha yang memerankan karakter perempuan Kristen. Kemudian, pemerannya pun tidak semuanya Muslim. Ada Onad yang Katolik, misalnya. Jadi secara pemeran dan peran pun sangat beragam,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa aspek visual dalam film ini sengaja dirancang untuk memperlihatkan keindahan toleransi di Indonesia.
“Ada nilai-nilai toleransi berbasis percintaan; ada kisah cinta beda agama antara Hikmah dan Sofia. Secara visual pun banyak hal yang memberikan kesan betapa indahnya Indonesia; bahwa kita berbeda tapi tetap bisa bersama," papar pria berdarah Madura ini.
Film Seni Merayu Tuhan akan tayang di bioskop Indonesia pada Agustus 2026. (*)



