Sering Gonta-ganti Nail Art? Waspada Bahaya Infeksi dan Kuku Mudah Patah
VIVIA MEDIA — Tidak hanya wajah dan tubuh, kini wanita juga berlomba-lomba mempercantik kuku dengan nail art. Namun penggunaan bahan kimia yang berlebih dan terlalu sering ternyata bisa merusak kuku.
Nail art sebenarnya bukan tren kecantikan baru. Namun sekitar awal 2026, seni menghias kuku itu mulai viral lagi.
Sama seperti namanya, nail art adalah teknik menghias kuku menggunakan warna, motif, atau aksesoris tertentu untuk menciptakan penampilan yang estetik sesuai kebutuhan.
| Baca Juga: Gaya Kuku Favorit Mendiang Putri Diana: French Manicure yang Simple Tapi Elegan
Dunia seni menghias kuku kini tidak sekadar melukis manual menggunakan kuteks. Berikut ini beberapa jenisnya, yang paling sering dipakai di masa kini.
Berdasarkan Bahan
Apabila tidak ingin menggunakan kuku palsu, kuteks dari bahan gel, acrylic, maupun soft gel extension bisa digunakan. Itu akan memberikan tampilan 2D yang cantik dan estetik karena dilukis langsung dengan jari.
Berdasarkan Efek Visual
Ada juga seni kuku timbul 3D/4D menggunakan sculpting gel tebal. Nantinya, kuku akan dipermanis dengan berbagai hiasan, seperti pita, bunga, bahkan karakter film tertentu.
Berdasarkan Kepraktisan
Bagi yang tidak memiliki banyak waktu, kuku bisa dipercantik menggunakan stiker, stamping plate, atau press-on nails (kuku palsu).
| Baca Juga: Dari 'Waka Waka' ke 'Dai Dai', Wajah Shakira Seolah Tak Menua Selama 16 Tahun
Dampak Nail Art pada Kuku
Sayangnya, di balik keindahan nail art tersimpan berbagai risiko kesehatan dari bahan kimia yang terkandung di kuteks dan bahan lainnya. Apabila tidak dilakukan dengan asal-asalan, bukannya terlihat cantik, kuku justru mengalami berbagai kerusakan.
Berikut ini dampak buruk dari penggunaan nail art pada kuku.
Kuku Rapuh dan Mudah Patah
Kandungan alkohol dalam bahan-bahan nail arts, seperti aseton dan lem kuku, serta pengikiran yang berlebihan membuat kuku rapuh dan mudah patah.
Itu terjadi karena lapisan pelindung menipis dan kering, sehingga kuku jadi sulit tumbuh dengan kuat.
| Baca Juga: Diejek Gendut Setelah Melahirkan, Alyssa Daguise Beri Respons Bijak
Infeksi
Peralatan nail art yang tidak steril atau praktik yang dilakukan saat jari terluka bisa memicu infeksi karena kuman. Akibatnya, kuku berubah warna dan area sekitarnya nyeri, bengkak, bahkan bernanah.
Memicu Alergi dan Iritasi
Bahan kimia bisa memicu reaksi alergi pada kulit. Sementara paparan berulang bisa menyebabkan dermatitis kontak yang membuat kulit sekitar kuku kemerahan, gatal, dan kering.
Cara Merawat Kuku
Sering berganti-ganti nail art bisa meningkatkan risiko kerusakan pada kuku. Supaya kuku tetap sehat, kuat, dan cantik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Nail Break
Berikan kuku waktu untuk beristirahat setelah menghapus atau melepas nail art lama selama minimal 1-2 minggu. Itu dilakukan agar kuku asli memiliki waktu beregenerasi.
| Baca Juga: Sering Dilupakan, Kulit Ketiak Juga Butuh Skincare Rutin Seperti Wajah
Fokus pada Hidrasi
Aseton maupun produk remover lain memiliki kandungan alkohol tinggi, sehingga kuku jadi mudah kering. Maka dari itu, oleskan cuticle oil 2-3 kali sehari pada kuku dan sekitarnya untuk menjaga kelembabannya.
Gunakan Sarung Tangan
Gunakan sarung tangan setiap sedang bersih-bersih, terutama saat sedang mencuci. Kuku yang sering di-nail art akan makin rapuh apabila terlalu sering terkena air.
Perhatikan Produk yang Digunakan
Pilih produk menghias kuku yang telah terjamin kandungannya dan sudah terdaftar di BPOM. Pastikan juga peralatan yang digunakan bersih dan steril. (*)



