VIVIA MEDIA — Media sosial mengubah cara orang membeli pakaian, sementara desainer dituntut menjaga identitas di tengah pasar yang semakin padat

Perubahan lanskap industri fashion tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, tetapi juga oleh perubahan perilaku konsumen. Bagi desainer sekaligus Ketua Asosiasi Fashion Chamber (AFC), Lenny Agustin, media sosial menjadi salah satu faktor yang paling besar menggeser cara masyarakat Indonesia memandang dan membeli pakaian.

Menurut Lenny, konsumen saat ini tidak lagi berbelanja dengan pola yang sama seperti satu dekade lalu. Jika dahulu busana berkualitas dengan harga tinggi masih menjadi pilihan karena dapat dikenakan berkali-kali, kini keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan untuk terus tampil berbeda di ruang digital.

“Untuk produk-produk yang sangat idealis itu sedikit menurun dari zaman sebelum ada sosial media. Setelah sekarang ada sosial media, karakter pembeli itu beda banget,” kata Lenny disela-sela media preview JF3 Fashion Festival 2026 di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading.

| Baca Juga: Istri Alex Abbad, Nadya Naufel Ternyata Bikin Gaun Pengantin Sendiri

Ia menjelaskan, media sosial membuat setiap penampilan terdokumentasi secara permanen. Akibatnya, banyak orang enggan mengenakan pakaian yang sama berulang kali karena jejak digitalnya sudah tersimpan.

“Sekarang sosial media merekam apa yang pernah dia pakai. Sekali pakai akhirnya dia nggak akan pakai bajunya lagi,” tuturnya.

Padahal, situasinya sangat berbeda pada masa sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Kalau zaman dulu kita ke acara itu nggak selalu kita posting. Jadi kita bisa pakai baju yang sama sampai lima kali,” kata Lenny.

| Baca Juga: Dobrak Batasan Gender, Intip Koleksi Tas Mewah Erling Haaland

Murah, Cepat, atau Berkelanjutan?

Perubahan kebiasaan tersebut membuat konsumen cenderung membeli pakaian dengan harga yang lebih terjangkau meski frekuensi pembeliannya meningkat. Namun, Lenny menilai fenomena itu tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai kemenangan fast fashion.

1 2 3

Tags: