Penurunan Massa Otot Jangan Dianggap Sepele, Sarcopenia Bisa Ganggu Metabolisme
Sebaliknya, ketika massa otot terus menyusut, metabolisme melambat sehingga pembakaran energi menjadi tidak seefisien sebelumnya. Akibatnya, berat badan lebih mudah meningkat meski asupan makanan relatif sama.
Bukan Hanya Berat Badan, Risiko Penyakit Metabolik Ikut Meningkat
Perlambatan metabolisme akibat berkurangnya massa otot juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit metabolik, seperti diabetes, kolesterol tinggi, hingga hipertensi.
| Baca Juga: Jangan Duduk Terus, Jalan Kaki Setiap 30 Menit Bisa Jaga Tubuh dari Kanker
Menurut dr. Andhika, masih banyak orang yang hanya berfokus pada makanan sebagai penyebab tingginya kolesterol. Padahal, kemampuan tubuh membakar lemak juga sangat dipengaruhi oleh jumlah massa otot.
“Jadi banyak orang, kolesterol tinggi langsung nyalahin kambing gitu. Padahal, mungkin bukan soal kambingnya, tapi ototnya dia enggak ada,” kata dr. Andhika.
Karena itu, menjaga massa otot seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh, bukan semata-mata untuk membentuk tubuh yang ideal.
Penurunan Massa Otot Bisa Diperlambat
Meski merupakan bagian dari proses penuaan, penurunan massa otot bukan berarti tidak dapat dicegah.
Menurut dr. Andhika, laju penyusutan otot sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Orang yang rutin melakukan latihan penguatan otot umumnya mampu mempertahankan massa otot lebih lama dibandingkan mereka yang kurang aktif bergerak. Dampaknya, metabolisme tubuh pun tetap bekerja lebih baik hingga usia lanjut.
| Baca Juga: Perdarahan Tidak Teratur Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Kanker Endometrium
Pandangan serupa disampaikan Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, STP., M.Sc., PDEng. Ia mengatakan bahwa perhatian masyarakat selama ini lebih banyak tertuju pada kesehatan tulang, padahal massa otot juga mulai mengalami penurunan sejak memasuki usia 30 tahun.







