Cuma Angkat Tumit, Ini 5 Manfaat Calf Raise yang Jarang Diketahui
VIVIA MEDIA — Kelihatannya cuma mengangkat tumit dari lantai, tetapi calf raise ternyata bekerja pada bagian kaki yang punya peran besar dalam aktivitas sehari-hari.
Gerakan itu menargetkan dua otot utama betis, yaitu gastrocnemius dan soleus, yang membantu tubuh berjalan, berlari, melompat, sekaligus menjaga kestabilan pergelangan kaki.
Menariknya, calf raise juga tidak harus selalu dilakukan sambil berdiri. Ada beberapa variasi yang bisa disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan latihan.
1. Membuat betis lebih kuat
Manfaat paling jelas adalah memperkuat otot betis. Gastrocnemius dan soleus bekerja saat tumit diangkat, sehingga latihan rutin dapat membantu meningkatkan kemampuan kaki menghasilkan dorongan ketika berjalan, berlari, menaiki tangga, hingga melompat.
| Baca Juga: Apa Pekerjaan Kadam Sidik? Pendakwah Muda yang Beri Mahar Rp1 Juta dan Tafsir
Karena itu, gerakan sederhana ini tidak hanya soal membuat betis terlihat lebih terbentuk. Kekuatan tersebut juga mendukung aktivitas yang membutuhkan gerakan cepat atau perubahan arah.
2. Membantu keseimbangan dan kontrol kaki
Calf raise juga berkaitan dengan kemampuan tubuh menjaga posisi tetap stabil. Penelitian yang diterbitkan Journal of Geriatric Physical Therapy pada 2016 melibatkan 28 orang lanjut usia dalam program latihan keseimbangan selama lima minggu.
Hasilnya, kemampuan heel-rise, keseimbangan, dan performa fungsional mengalami peningkatan.
3. Bisa mendukung performa lari dan lompatan
Betis bukan sekadar otot kecil yang bekerja ketika berdiri jinjit. Otot ini membantu menghasilkan plantar flexion, yaitu gerakan ketika telapak kaki mendorong ke bawah.
| Baca Juga: Dari Film 'Heart' ke Sydney Marathon, Momen 20 Tahun Persahabatan Nirina Zubir dan Acha Septriasa
Itulah sebabnya kekuatan calf ikut berperan saat sprint, melompat, atau melakukan gerakan eksplosif.
Latihan calf raise selama delapan minggu dapat meningkatkan kemampuan menghasilkan gaya secara cepat pada otot plantar flexor sebesar 21 persen dibanding kelompok yang tidak melakukannya.
1 2







