Studi: Mengasuh Anak Ternyata Ampuh Untuk Kesehatan Otak Ayah
VIVIA MEDIA — Selama lebih dari 10 tahun, laboratorium riset di University of Southern California mempelajari bagaimana menjadi ayah memengaruhi otak, tubuh, kesehatan, dan hubungan seorang pria. Selama ini, berbagai publikasi lebih banyak membahas dampak ayah terhadap anak dan istri. Padahal, menjadi ayah yang terlibat penuh ternyata juga membawa manfaat besar bagi si ayah sendiri.
Memang, pria yang serius mengurus anak mungkin memiliki dampak. Dia menjadi kurang tidur, berat badan naik, dan waktu luang berkurang. Tapi di balik itu, mereka mendapat hidup yang lebih bermakna dan otak yang lebih sehat.
Ayah Zaman Sekarang Makin Terlibat
Clinical psychologist Darby Saxbe dalam publikasinya menyatakan, berbeda dari anggapan bahwa pria masa kini lebih memilih fokus kerja dan mengabaikan keluarga, data justru menunjukkan sebaliknya.
"Waktu yang dihabiskan ayah untuk mengasuh anak naik empat kali lipat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Ayah dari generasi milenial kini menghabiskan waktu bersama anak hampir sebanyak ibu dari generasi baby boomer dulu," ujarnya, sebagaimana dilansir dari Channel News Asia.
| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut
Namun, terdapat kesenjangan di mana ayah dengan pendidikan tinggi kini menghabiskan waktu pengasuhan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan ayah tanpa gelar sarjana. Kesenjangan ini paling terasa pada kegiatan seperti membacakan buku atau bermain bersama anak.
Hal-hal semacam itu berdampak pada kesempatan anak di masa depan.
Hubungan keluarga yang erat juga terbukti penting bagi kesehatan pria dalam jangka panjang. Salah satu studi terlama soal kehidupan orang dewasa dari Harvard menemukan bahwa kepuasan pria terhadap hubungan keluarga di usia 50 tahun justru memiliki kesehatan fisik yang lebih baik.
Anak juga “memaksa” ayah untuk membangun relasi baru. Salah satunya dengan orang tua murid lain, tetangga, atau komunitas sekolah. Bagi pria, yang umumnya lebih sulit mencari teman baru saat dewasa, koneksi semacam ini sangat berarti.
| Baca Juga: Bantu Cegah Resistensi Insulin, ini Waktu Terbaik Sarapan Menurut Ahli
Mengasuh Anak Bikin "Awet Muda"
Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa menjadi ayah bisa melindungi otak pria seiring bertambahnya usia. Studi menggunakan data pemindaian otak ribuan orang di Inggris (UK Biobank) menunjukkan otak pria dan wanita yang punya anak tampak “lebih muda” dibandingkan dengan yang tidak punya anak.
Penelitian lain dari USC menemukan, pria dengan dua anak memiliki usia otak sekitar 0,6 tahun lebih muda, dan pria dengan tiga anak lebih muda 0,7 tahun dibanding pria tanpa anak. Manfaat itu setara dengan olahraga 2,5 jam per minggu.
Studi lain menemukan pria yang punya lebih banyak anak memiliki pola koneksi otak yang lebih aktif, terutama di bagian otak yang mengatur indra, gerak tubuh, dan ingat. Hal itu kemungkinan besar berkaitan dengan aktivitas fisik mengasuh anak sehari-hari.
Menariknya, manfaat kognitif dari menjadi orang tua tampak lebih besar dialami oleh ayah dibandingkan dengan ibu. Salah satu penyebabnya: secara tradisi, ayah lebih sering kebagian “bagian menyenangkan” dari pengasuhan, seperti bermain, sementara ibu menanggung tugas rutin yang melelahkan.
| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia
Meski begitu, kondisi ini mulai berubah. Ayah kini juga makin sering mengambil alih tugas harian seperti menyusui dari botol, memandikan, hingga mengganti popok.
Pada tahun 1982, sebanyak 43 persen ayah di Inggris tidak pernah mengganti popok. Pada 2010, data dari CDC Amerika Serikat menunjukkan 90 persen ayah yang tinggal bersama anak balita rutin membantu tugas semacam ini.
Konsekuensinya, ayah baru kini juga lebih rentan mengalami gejala depresi dan kecemasan dibanding pria pada umumnya, ditambah efek fisik seperti kurang tidur dan kenaikan berat badan. Namun, manfaat jangka panjang biasanya baru terasa setelah melewati masa-masa berat di awal.
Menjadi Ayah Kini Terasa “Opsional”
Tantangan muncul di masa kini adalah saat sebagian pria memilih tidak berkeluarga sama sekali. Jika dulu menikah dan punya anak adalah pilihan penting, kini banyak yang menganggapnya opsional. Angka pernikahan terus menurun, dan makin banyak pasangan muda menunda atau memilih tidak punya anak.
| Baca Juga: Waspada! Sering Taruh Laptop di Paha dan Simpan HP di Saku Celana Bisa Ganggu Kesuburan Pria
Ditambah dengan gaya hidup serba “optimalisasi diri". Yakni mengatur pola makan, produktivitas kerja, dan performa fisik hingga sempurna, banyak pria justru melewatkan satu hal yang terbukti bermanfaat bagi otak dan umur panjang: ikatan mengasuh anak kecil. Sebab, ikatan semacam itu tidak melalui jalan pintas. Ia harus dijalani.
Dengan belajar mengasuh anak, para ayah sebenarnya sedang membangun empati, memperkuat otak, dan mengasah kemampuan yang juga berguna di tempat kerja maupun lingkungan sosial.
Pada akhirnya, sifat-sifat seorang ayah yang baik adalah juga sifat seorang pria yang baik: tegas namun mau melindungi yang lemah, mendidik sekaligus mendengarkan, memimpin dengan teladan, dan bertahan menghadapi tantangan dengan gigih. (*)







