Avip Priatna dan The Resonanz Children’s Choir Wakili Indonesia ke Final European Grand Prix 2027
VIVIA MEDIA — The Resonanz Children’s Choir (TRCC) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu paduan suara anak terbaik di dunia. Di bawah arahan konduktor Avip Priatna, paduan suara asal Indonesia itu sukses meraih Grand Prize Winner pada 30th Béla Bartók International Choir Competition yang berlangsung di Debrecen, Hungaria.
Pada kompetisi yang dikenal sebagai salah satu ajang paduan suara paling prestisius di dunia tersebut, TRCC tidak hanya membawa pulang gelar juara umum. Mereka juga meraih Juara I Kategori Children’s Choir dengan nilai 95,5 poin dan Juara I Kategori Free Program dengan nilai 98 poin.
Avip Priatna juga menerima Conductor Prize for Outstanding Interpretation of Contemporary Pieces and Expressive Choral Sounding atas kemampuan interpretasi karya-karya kontemporer dan kualitas musikal yang ditampilkan sepanjang kompetisi.
Sebagai juara umum Béla Bartók International Choir Competition, TRCC berhak mewakili kompetisi tersebut pada babak final European Grand Prix for Choral Singing (EGP) 2027 di Arezzo, Italia. Pada ajang yang kerap disebut sebagai ‘Liga Champions’ dunia paduan suara itu, mereka akan berhadapan dengan para juara umum dari kompetisi-kompetisi paduan suara paling bergengsi di Eropa.
| Baca Juga: Kisah Cucu Pakai Gaun Pengantin Mendiang Nenek dari Tahun 60-an di Hari Pernikahan
Béla Bartók International Choir Competition bukanlah kompetisi paduan suara biasa. Ajang yang diselenggarakan dua tahun sekali di Debrecen, Hungaria, ini memiliki karakter yang sangat khas karena hanya berfokus pada karya-karya paduan suara a cappella kontemporer abad ke-20 dan ke-21.
Sesuai regulasi kompetisi, seluruh peserta hanya diperbolehkan membawakan karya yang ditulis setelah tahun 1945, kecuali karya ciptaan Béla Bartók, komposer legendaris Hungaria yang menjadi inspirasi sekaligus nama kompetisi tersebut.
Aturan itu menjadikan kompetisi ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Tidak hanya menuntut kemampuan vokal para penyanyi, tetapi juga kemampuan interpretasi musikal dari konduktor.
Karena itu, TRCC memilih meninggalkan pakem yang selama ini identik dengan penampilan mereka di berbagai panggung internasional, yakni membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia. Seluruh repertoar yang dipersiapkan kali ini diarahkan pada nuansa modern kontemporer agar sesuai dengan karakter kompetisi.
| Baca Juga: Nenek 74 Tahun, Ying Zi Buktikan Usia Bukan Halangan untuk Tetap Tampil Modis
Ketua Dewan Juri, Georg Grün dari Jerman, bahkan menyoroti kompleksitas repertoar yang diperlombakan. Dalam sambutannya saat pengumuman pemenang, ia mengatakan karya-karya kontemporer modern merupakan tantangan besar bagi semua pihak.
Menurutnya, tingkat kesulitan tersebut tidak hanya dirasakan para penyanyi yang harus mempelajari dan menghafalkan lagu-lagu dengan struktur musikal yang kompleks, tetapi juga para konduktor dalam membangun interpretasi, hingga para juri yang harus memberikan penilaian secara objektif.
Selain Georg Grün, dewan juri terdiri atas Zsuzsanna Gráf (Hungaria), Tristan Caliston Ignacio (Filipina), Csaba Somos (Hungaria), dan Philippos Tsalahouris (Yunani).

Menantang diri lewat repertoar kontemporer
Dengan kekuatan 40 penyanyi, TRCC mengikuti dua kategori kompetisi, yakni Children’s Choir dan Free Program. Menariknya, pada kategori Free Program mereka harus bersaing langsung dengan paduan suara dewasa dari berbagai negara.
Pada kategori Children’s Choir, TRCC membawakan empat karya, yakni O Sapientia karya komposer Slovenia Tadeja Vulc, Laudate Pueri Dominum karya komposer Italia Mattia Culmone, Home at Night karya komposer Hungaria Máté Bella, serta Deus Ultionum karya komposer Hungaria Levente Gyöngyösi.
Sementara pada kategori Free Program, TRCC menampilkan Magnus Maior Maximus karya komposer Hungaria Péter Tóth, Virágsirató karya komposer Hungaria József Karai, Spiritus Domini karya komposer Italia Michele Josia, serta 137 Hip-Street, karya komposer muda Indonesia, Fero Aldiansya Stefanus.
Lolos dari seleksi ketat menuju panggung dunia
Perjalanan menuju Debrecen diawali dengan proses seleksi yang tidak sederhana. Setiap calon peserta diwajibkan mengirimkan video penampilan untuk dinilai kelayakannya sebelum diundang mengikuti kompetisi.
| Baca Juga: Dulu Jual Jersey Demi Anak, Orlando Gill Kini Jadi Pahlawan Paraguay di Piala Dunia 2026
Pada penyelenggaraan edisi ke-30 ini, hanya sebelas paduan suara dari berbagai negara yang dinyatakan lolos. Dari sebelas peserta tersebut, hanya empat paduan suara yang berhasil melaju ke babak Grand Prize. Selain TRCC, tiga finalis lainnya adalah Riverside City College Chamber Singers (Amerika Serikat), Coralia – Concert Choir of the University of Puerto Rico (Puerto Rico), serta MASKA Mixed Choir (Latvia).
TRCC mendapat giliran tampil pertama pada babak penentuan tersebut. Mereka membawakan tiga karya, yakni Hodie Christus Natus Est karya József Karai, Spiritus Domini karya Michele Josia, dan A Poem to the Mother of the Gods karya komposer kontemporer Jepang, Takatomi Nobunaga.
Kerja keras yang berbuah prestasi
Bagi Avip Priatna, kemenangan ini merupakan hasil dari proses panjang dalam mempersiapkan repertoar yang dikenal memiliki tingkat kesulitan musikal sangat tinggi.
“Membawakan repertoar musik kontemporer abad ke-20 dan ke-21 merupakan tantangan yang sangat besar. Saya sangat bangga melihat kerja keras anak-anak ini. Mereka tidak hanya berhasil mengatasi tingkat kesulitan musik yang tinggi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan sangat baik di panggung internasional,” ujar Avip Priatna melalui rilis yang diberikan TRCC, Selasa (7/7).
Keberhasilan TRCC juga disaksikan langsung oleh Duta Besar LBBP Republik Indonesia untuk Hungaria, Penny Dewi Herasati, yang hadir pada babak Grand Prize.

Menurut Penny, kesan pertama yang ia rasakan justru berbeda dari ekspektasinya terhadap sebuah paduan suara kompetisi.
“Saat menyaksikan penampilan TRCC yang tampil pertama, dalam bayangan saya sebuah paduan suara akan menghasilkan suara yang besar, bulat, dan penuh. Namun, ketika TRCC mulai bernyanyi, yang terdengar justru suara anak-anak yang ringan dan jernih, dengan talenta serta keahlian tinggi,” katanya.
Ia mengatakan, setelah menyaksikan seluruh finalis tampil, ia baru menyadari bahwa tantangan musikal yang dihadapi TRCC jauh lebih besar dibanding yang terlihat di permukaan.
“Mereka tidak sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga menampilkan penguasaan teknik vokal, dinamika, artikulasi, serta musikalitas yang membutuhkan disiplin tinggi. Bangga sekali dan haru mendengar nama TRCC dipanggil sebagai pemenang. Selamat kepada TRCC, teruslah berkarya dan berprestasi mengharumkan nama Indonesia di kancah global,” ujar Penny.
Pada 2027 mendatang, TRCC akan membawa nama Indonesia ke final European Grand Prix for Choral Singing di Arezzo, Italia, menghadapi para juara terbaik Eropa dalam ajang yang menjadi panggung paling prestisius bagi komunitas paduan suara internasional. (*)







