"Lebih baik menawarkan hal konkret, seperti mencatat notula rapat atau mengambil alih tugas yang membutuhkan perjalanan jauh," kata Yeo.

Bila rekan kerja belum terbuka tapi terlihat ada yang berubah, Rebecca Oh menyarankan pendekatan halus. Misalnya melalui kalimat "Aku perhatikan belakangan ini kamu terlihat berbeda. Kalau ada yang bisa aku bantu, kabari ya”

Hal itu dilakukan tanpa perlu menyelidiki lebih jauh. Tujuannya menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang merasa aman untuk meminta dukungan.

| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia

Di sisi lain, Hong Dou dari 365CPS mengingatkan agar tidak berlebihan melindungi rekan tersebut. "Tetap perlakukan mereka sebagai kolega, bukan hanya sebagai pasien, dan libatkan dalam diskusi maupun proyek seperti biasa," jelasnya.

Bagi Keluarga dan Teman

Bantuan paling praktis bagi keluarga dan teman adalah terkait hal-hal sehari-hari. Misalnya, mengurus keperluan rumah tangga, membantu jemput anak, menemani ke jadwal kontrol dokter, atau menyiapkan makanan saat kelelahan membuat aktivitas harian terasa berat.

Wa Aung menambahkan, keluarga bisa berperan sebagai “mata dan telinga” tambahan saat berkomunikasi dengan tim medis, membantu mengatur jadwal dan obat-obatan.

Dukungan emosional sama pentingnya. Terkadang yang dibutuhkan pasien hanyalah didengarkan, bukan nasihat. Hong Dou mengingatkan, niat baik memberi saran bisa terasa seperti meremehkan perjuangan mereka.

| Baca Juga: Yuk Kenali 3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

"Hindari kalimat seperti 'tetap semangat ya', 'untung bukan stadium akhir', atau 'jangan dipikirkan', karena bisa terkesan mengabaikan perasaan pasien. Sebaliknya, akui situasi mereka sambil tetap memberi dukungan," ujarnya.

Konsistensi Kehadiran

1 2 3

Tags: