Seiring Perkembangan, AI Tak Perlu Pintar, Namun Harus Memahami Manusia
VIVIA MEDIA — Setiap lompatan teknologi besar baru akan benar-benar mengubah hidup manusia ketika mampu menyatu dengan keseharian aktivitas. Hal itu pernah dialami oleh listrik, internet maupun ponsel. TM Roh, CEO dan Presiden Samsung Electronics berpandangan bahwa artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan menempuh jalan yang sama.
"AI tidak perlu berpikir melebihi Anda. AI perlu memahami Anda," ujar TM Roh di Jakarta baru-baru ini.
Ia menilai kecerdasan yang semakin tinggi bukan satu-satunya faktor penentu masa depan AI. Yang lebih penting adalah bagaimana AI hadir dalam kehidupan manusia, melalui perangkat apa ia berinteraksi dan sejauh mana ia memahami kebutuhan tiap individu.
| Baca Juga: Robot Humanoid Joko Prabuwesi Viral, Sukses Bikin Netizen Tertawa
Memasuki Era Agentic AI
AI kini bergerak dari sekadar pemberi informasi menuju agentic AI. Konsep ini menempatkan AI yang bisa bertindak atas nama pengguna, sementara keputusan akhir tetap di tangan manusia.
Namun, kemampuan bertindak ini bergantung pada seberapa dalam AI memahami penggunanya lebih dulu, dan itu terbentuk lewat titik-titik interaksi dengan penggunanya sehari-hari.
Ekosistem Perangkat sebagai Sumber Pemahaman
Pemahaman itu dibangun dari berbagai perangkat yang terintegrasi dengan AI. Misalnya, smartphone untuk interaksi utama, tablet untuk belajar dan berkarya, dan jam tangan pintar (smartwatch) untuk membaca sinyal tubuh seperti pola tidur dan detak jantung.
Perangkat rumah seperti TV juga bisa menggambarkan aktivitas keseharian. Dalam hal ini, Samsung telah memperluas titik interaksi ini lewat perangkat foldable atau yang bisa dilipat dan kacamata pintar.
| Baca Juga: Rajin Pilah Sampah Botol Plastik Sejak Dari Rumah Punya Peluang Ekonomi
Nilai sesungguhnya muncul saat semua perangkat tersebut bekerja sebagai satu ekosistem. Misalnya, data tidur pengguna melalui smartwatch yang membantu menyusun jadwal esok hari.
1 2







