VIVIA MEDIA — Sampah kemasan tidak selalu berakhir sebagai limbah. Lewat proses pemilahan dan pengolahan yang tepat, material kemasan dapat menjadi bahan baku baru.

Cara pandang inilah yang menjadi dasar ekonomi sirkular, sebuah pendekatan yang menjaga sampah kemasan tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin. Pendekatan ini dikembangkan dari prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).

Ekonomi sirkular melihat sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik ini sebenarnya dimulai dari kebiasaan sederhana.

Memilah sampah dari rumah seperti mengumpulkan botol atau kemasan bekas. Material yang masih bernilai itu perlu masuk ke jalur daur ulang yang tepat. Hal itu supaya agar sebuah produk memiliki kehidupan kedua.

Dari Kebiasaan Konsumsi Menuju Sistem Ekonomi

Upaya membangun sistem ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Produsen, pemerintah, industri daur ulang, pengelola sampah, hingga masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan.

| Baca Juga: Konsumsi Yogurt Jadi Andalan Gaya Hidup Sehat Pevita Pearce

Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, pemerintah mendorong penerapan prinsip 3R sekaligus memperkuat Extended Producer Responsibility (EPR).

Kebijakan itu adalah pendekatan yang menempatkan produsen sebagai bagian dari solusi pengelolaan kemasan pascakonsumsi.

Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan transformasi menuju ekonomi sirkular menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah di Indonesia.

“Implementasi EPR menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan,” ujar Agus dalam diskusi Green Responsibility for Our World (GROW) Day 2026 yang digelar ABC Indonesia di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

| Baca Juga: Ada Naga dan Monyet, Ini Enam Shio Paling Hoki pada Juli 2026

1 2 3

Tags: