Menurut Glazier, banyak penggemar sebenarnya tidak keberatan mendengarkan musik buatan AI, asal mereka tahu kapan ada campur tangan manusia yang nyata. “Tapi fleksibilitas dalam proses kreatif juga berarti musisi yang ingin memakai AI dalam proses berkarya mereka tetap harus bisa melakukannya,” katanya.

Bagaimana Respons Platform Streaming?

Beberapa platform streaming sudah lebih dulu bergerak ke arah ini:

Deezer telah memiliki sistem deteksi AI sendiri sejak 2025 dan mengklaim akurasinya mencapai 99,8%. Perusahaan ini melaporkan bahwa hampir 44% lagu baru yang masuk ke platform mereka setiap hari — sekitar 75.000 lagu — merupakan hasil AI sepenuhnya.

Apple Music meluncurkan sistem “transparency tags” sejak Maret, yang mengandalkan label rekaman dan distributor untuk melaporkan sendiri penggunaan AI. Menurut seorang eksekutif Apple Music, lebih dari sepertiga lagu baru yang diunggah kini dibuat 100% oleh AI.

| Baca Juga: Tersandung Kabel, Penyanyi Wang Leehom Jatuh di Panggung hingga Dapat 39 Jahitan

Spotify meluncurkan label “Verified by Spotify” pada April untuk menjamin keaslian profil artis, serta mendukung standar pengungkapan AI baru bernama DDEX. Tahun lalu, Spotify juga mengaku telah menghapus lebih dari 75 juta lagu “spam” akibat aturan baru soal peniruan identitas dan penipuan berbasis AI.

Asosiasi Media Digital (DIMA), yang mewakili perusahaan streaming seperti Apple Music, Amazon, dan Spotify, mengaku menyambut baik inisiatif ini dan berharap bisa menerima data metadata AI yang lebih detail dan akurat agar transparansi bagi pendengar makin terjaga. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: