Tantangan Perankan Karakter Guru Kembar

Dalam film 'Aku Sebelum Aku', Aming mendapatkan tantangan akting yang tidak biasa. Dia dipercaya memerankan dua karakter sekaligus yang merupakan saudara kembar, yakni Pak Zai dan Pak Junet. Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang meski sama-sama berprofesi sebagai pendidik.

Aming menjelaskan bahwa Pak Zai adalah seorang guru agama yang memiliki sifat tawadhu, kalem, berbicara lembut (soft-spoken), dengan gestur tubuh yang lebih merunduk. Sebaliknya, Pak Junet digambarkan sebagai guru olahraga yang lebih tegas, bersuara lantang (outspoken), dan lugas.

“Jarang sekali saya yang biasanya petakilan atau pecicilan tiba-tiba harus memerankan tipe guru yang bener-bener sudah accept, sudah ikhlas terhadap hidup. Itu kesulitan yang saya alami, tapi merupakan tantangan yang sangat menarik,” kata bintang film Ghost In The Cell itu.

Proses pendalaman karakter ini dilakukan melalui sesi reading dan workshop intensif bersama sutradara Gina S. Noer, yang telah menyiapkan lembar karakter (character sheet) mendalam untuk membantu Aming membedakan kedua tokoh tersebut secara detail.

Trauma Masa Lalu dan Sosok Guru BP

Pengakuan Aming tentang anak dan perannya sebagai guru yang mengayomi ternyata berakar dari pengalaman pribadinya yang kelam. Ia mengungkapkan bahwa saat masa sekolah dulu, ia adalah sosok anak yang sangat bandel akibat masalah keluarga (family issues) yang dialaminya.

“Pelampiasan saya dulu adalah karena saya tidak tahu cara meregulasi emosi saya. Saya tidak tahu cara 'menjinakkan' sisi liar dalam diri saya, sehingga saya sering bertindak bandel sebagai bentuk kemarahan,” kenang Aming.

Titik balik hidupnya terjadi berkat arahan seorang guru BP yang mengajaknya berdiskusi dengan tenang. Aming mengingat pesan guru tersebut yang memintanya untuk berhenti merasa lelah karena terus marah dan mulai menerima ketidaknyamanan hidup sebagai sebuah proses.

| Baca Juga: 'Ghost Buzzer: Antar Aku Pulang' Jadi Film Horor Misteri yang Ramah Anak

"Beliau mengajak saya mengobrol tenang, dia bilang begini: 'Ming, marah-marah itu capek. Daripada marah terus, mending kamu berusaha menerima semua ketidaknyamanan dalam hidup kamu. Nggak usah buru-buru memaafkan, itu semua proses. Nikmati saja prosesnya, pasti ada saat di mana semuanya bakal selesai dan baik-baik saja," kenang Aming.

Pesan itulah yang hingga kini ia terapkan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam perannya sebagai orang tua.

1 2 3

Tags: