Kembali Hadir Setelah 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Lagi Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'
“PR setelah menonton pertunjukan ini adalah berpikir dan berefleksi. Pertanyaannya sederhana, apakah dunia yang kita tinggali hari ini memang semakin menyerupai rumah sakit jiwa?” katanya.
Salah satu perjalanan personal paling kuat dalam pementasan ini dialami Ratna Riantiarno.
Pendiri Teater Koma tersebut kembali memerankan Ibu dr. Rogusta, karakter yang pernah ia mainkan ketika Rumah Sakit Jiwa pertama kali dipentaskan pada 1991.
| Baca Juga: Pasca Rehabilitasi, Onadio Leonardo Jadi ‘Budak Duit’ di Film Seni Merayu Tuhan
Namun, tiga setengah dekade bukanlah waktu yang singkat. Ratna tidak ingin sekadar mengulang interpretasi masa lalu. Ia memilih membaca kembali naskah tersebut melalui pengalaman hidup yang telah berubah.
“Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya,” ujar Ratna.
Menurut Ratna, dirinya tidak ingin terjebak membandingkan permainan dahulu dan sekarang. Ia memilih memahami tokoh tersebut dari perspektif dirinya hari ini.
“Saya membaca naskah ini lagi dari sudut pandang saya sekarang. Saya ingin mencari penyelesaian yang baru,” kata wanita kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 23 April 1952 itu.
| Baca Juga: Yang Zi Kenang Masa Jadi Figuran, Kini Dapat Julukan 'Ratu Rating'
Selain sebagai pemain, Ratna juga menjalankan peran sebagai produser dalam produksi ini. Perjalanan hampir 50 tahun bersama Teater Koma membuatnya terbiasa menjalani berbagai tanggung jawab, baik di balik layar maupun di atas panggung.
“Terkadang kalau ditanya saya ini pimpinan produksi atau apa, saya bilang saya ini babu serambutan, karena mengurus banyak hal,” ujarnya sambil bercanda.
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation Billy Gamaliel mengatakan, di tengah banyaknya pilihan hiburan digital, teater tetap menawarkan pengalaman yang bersifat personal karena penonton dan pemain hadir dalam ruang dan waktu yang sama.



