Kolaborasi Penari Indonesia dan Filipina Pukau Pertunjukan Dance For All 2
VIVIA MEDIA — Cicilia Ballet School (CBS) kembali menghadirkan pertunjukan tari berskala internasional melalui Dance For All 2 yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Sabtu (11/7/2026).
Selama dua jam, mulai pukul 17.00 hingga 19.00 WIB, penonton disuguhkan 21 nomor tari yang menampilkan kolaborasi para penari dari Indonesia dan Filipina.
Tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, Dance For All 2 juga menjadi ajang bertemunya para seniman tari dari berbagai institusi.
Kolaborasi antara Cicilia Ballet School, EKI Dance Company, Ballet Manila dari Filipina, dan Etoile Dance Centre menghadirkan pertunjukan yang memadukan teknik balet klasik dengan eksplorasi tari kontemporer yang sarat makna.
| Baca Juga: Kembali Hadir Setelah 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Lagi Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'
Kolaborasi Empat Institusi Tari
Pendiri, pengajar sekaligus koreografer Cicilia Ballet School, Ade Setiowibowo, menjelaskan bahwa Dance For All 2 merupakan bentuk kolaborasi lintas negara yang melibatkan para penari dengan kemampuan teknik tinggi.
"Seluruh karya yang dipentaskan telah dipersiapkan secara matang agar mampu menghadirkan pengalaman artistik yang berkesan bagi penonton. Karena memang punya teknik yang tinggi," ujar Ade Setiowibowo.
Pertunjukan dibuka dengan karya berjudul Dance For All, hasil kolaborasi CBS dan EKI Dance Company yang dikoreografi langsung oleh Ade Setiowibowo. Nomor pembuka tersebut menjadi simbol semangat kebersamaan sekaligus memperlihatkan harmonisasi para penari dari berbagai latar belakang.
Selanjutnya, penonton disuguhkan berbagai penampilan dari Cicilia Ballet School dan Ballet Manila yang tampil bergantian membawakan repertoar balet klasik maupun modern.
| Baca Juga: Musikal Senja Teduh Pelita Ajak Penonton Merenungkan Masa Depan Bumi
Penampilan Spesial Ballet Manila
Salah satu penampilan yang paling dinantikan datang dari Ballet Manila. Grup balet asal Filipina tersebut menghadirkan repertoar klasik Sleeping Beauty Pas de Deux yang dibawakan oleh dua soloisnya, Shamira Drapete dan Jos David Andes.
Kehadiran kedua penari profesional ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan kesempatan bagi penonton Indonesia untuk menyaksikan kualitas balet internasional secara langsung di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta.

"Saya berharap kolaborasi lintas negara ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni balet. Semoga meninggalkan kesan di hati penonton," harap Ade.
Penutup Megah Lewat Underwater from the Pharaoh's Daughter
Dance For All 2 ditutup dengan sebuah pertunjukan kolosal bertajuk Underwater from the Pharaoh's Daughter, yang menghadirkan kolaborasi penari dari tiga kelompok sekaligus, yakni Cicilia Ballet School, EKI Dance Company, dan Ballet Manila.
| Baca Juga: Cici Paramida, Ikke Nurjanah dan Kristina Siap Tampil Maksimal di Konser 3 Kembang
Karya yang berasal dari koreografi maestro balet Marinus Petipa tersebut dikreasikan ulang oleh Ade Setiowibowo sehingga tampil dengan sentuhan baru tanpa menghilangkan nuansa klasiknya.
Penampilan penutup ini menjadi puncak pertunjukan yang memperlihatkan kekompakan para penari dari berbagai institusi dalam satu panggung.
EKI Dance Company Angkat Isu Kehidupan Modern
Selain pertunjukan balet klasik, Dance For All 2 juga menghadirkan karya-karya kontemporer dari EKI Dance Company.
Melalui koreografer muda Nala Amrytha, EKI menampilkan dua karya dengan tema yang kontras namun sama-sama mengangkat refleksi kehidupan modern.
| Baca Juga: Lyodra Hingga Viky Sianipar Ramaikan Ajang Musik Internasional di Danau Toba
Tarian Corporate Jam menggambarkan realitas kehidupan para 'budak korporat' yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Sementara itu, Manohara mengambil inspirasi dari karakter ular beserta racunnya sebagai simbol kompleksitas sisi gelap kehidupan.
"Dalam Dance for All yang kedua ini, saya menampilkan Corporate Jam yang mengangkat persoalan 'budak korporat' serta Manohara yang terinspirasi dari ular dan racunnya. Saya berharap kedua karya ini dapat mengajak penonton melihat kompleksitas kehidupan dari sudut pandang yang berbeda," ujar Nala Amrytha.

Kisah Perempuan Bangkit Lewat Solidaritas
Koreografer muda lainnya, Ara Ajisiwi, menghadirkan karya berjudul Rein yang mengangkat kisah perempuan dengan berbagai luka dan pengalaman hidup.
Lewat gerak tari, Ara menggambarkan bagaimana perempuan dapat menemukan kekuatan ketika saling mendukung dan berjalan bersama menghadapi berbagai tantangan.
"Tarian ini menyiratkan pesan bahwa perempuan dapat bangkit dan menentukan arah hidupnya ketika saling mendukung dan berjalan berdampingan," tutur Ara Ajisiwi. (*)



