VIVIA MEDIA — Perjalanan panjang buku Filosofi Teras memasuki babak baru. Setelah berhasil mencapai cetakan ke-100 sejak pertama kali diterbitkan pada 2018, karya Henry Manampiring tersebut kini akan diadaptasi menjadi film layar lebar.

Pengumuman proyek film Filosofi Teras ditandai dengan peluncuran teaser poster dan teaser trailer dalam acara yang berlangsung di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026).

Adaptasi ini menjadi langkah lanjutan dari perjalanan buku yang mengangkat konsep filsafat stoikisme dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Bagi Henry Manampiring, pencapaian cetakan ke-100 menjadi sebuah hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia mengaku awalnya tidak yakin bukunya bisa mencapai angka tersebut ketika pertama kali mendapat kabar mengenai target cetakan berikutnya.

| Baca Juga: Punya Koleksi 17 Ribu Buku, Habib Jafar Bocorkan Karya Favoritnya

"Dulu pas cetakan 50 dibilangin, 'sampai ketemu di cetakan 100'. Aku pikir enggak kejadian, tapi ternyata ada," kata Henry.

Menurut Henry, perjalanan panjang Filosofi Teras menjadi bukti bahwa buku masih memiliki ruang untuk diterima masyarakat Indonesia di tengah perkembangan berbagai bentuk hiburan digital.

"Sudah panjang dan bisa sampai cetakan 100, itu buat saya memang encouraging, membesarkan hati saya bahwa masih ada tempat bagi buku di Indonesia," lanjutnya.

Buku Filosofi Teras sendiri memperkenalkan pemikiran stoikisme dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui konsep tersebut, pembaca diajak memahami cara mengelola emosi, menghadapi tekanan, serta membedakan hal-hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan.

| Baca Juga: Ahli Waris Pattimura Usulkan Kediaman Thomas Matulessy Jadi Museum

Dalam versi film, pesan tersebut akan diterjemahkan melalui cerita dan perjalanan para karakter. Sutradara Affandi Abdul dipercaya untuk membawa gagasan dari buku tersebut ke medium layar lebar.

Affandi mengatakan film ini tidak hanya akan berbicara mengenai latar perkotaan atau kehidupan di lingkungan tertentu. Menurutnya, konflik yang diangkat dalam cerita memiliki keterkaitan dengan pengalaman banyak orang.

"Kalau sekarang mungkin kelihatannya kantor, tapi kalau tempatnya kita pindah ke tempat yang lain, itu pun juga hal yang sama," ucap Affandi.

Ia menjelaskan bahwa fokus utama film bukan sekadar menggambarkan tempat kejadian, melainkan menghadirkan perasaan dan pengalaman batin yang dialami para tokoh.

| Baca Juga: Sempat Dirilis Ilegal, Tim Animator ‘Avatar Aang: The Last Airbender’ Tulis Pesan Haru di Trailer Perdana

"Jadi saya ngerasa bukan lokasi dan tempatnya yang merepresentasi, tapi kejadiannya dan rasa yang mereka lalui dari kejadian-kejadian yang mereka lalui. Itu yang kita representasikan di film ini," ujarnya.

Salah satu gagasan dalam Filosofi Teras yang akan menjadi bagian penting dalam film adalah Amor Fati atau konsep mencintai takdir. Pemikiran tersebut juga memiliki kedekatan dengan aktris Sherina Munaf yang ikut terlibat dalam proyek adaptasi ini.

Keterlibatan Sherina diharapkan dapat memberikan sudut pandang berbeda dalam menyampaikan pesan mengenai penerimaan terhadap keadaan dan cara menghadapi berbagai tantangan hidup.

Melalui adaptasi film ini, Filosofi Teras tidak hanya membawa cerita dari sebuah buku ke layar lebar, tetapi juga mencoba menghadirkan kembali pembahasan mengenai cara manusia menghadapi tekanan, rasa cemas, serta berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: