VIVIA MEDIA — Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga justru berubah menjadi sumber teror dalam film Perumahan Laddaland. Film horor terbaru produksi MD Pictures ini tidak hanya mengandalkan kemunculan makhluk gaib dan adegan mengejutkan, tetapi juga menghadirkan konflik keluarga yang menjadi inti cerita.

Diadaptasi dari film horor Thailand LaddaLand (2011), Perumahan Laddaland membawa kisah tersebut ke dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia.

Film ini mengangkat perjuangan sebuah keluarga yang berusaha mendapatkan kehidupan lebih baik melalui rumah impian, tetapi harus menghadapi berbagai kejadian misterius saat menempatinya.

Film yang disutradarai oleh Awi Suryadi dengan skenario karya Lele Layla ini diperkenalkan melalui peluncuran final poster dan official trailer.

| Baca Juga: Hobi Unik Titi Kamal: Cari Hantu di Tempat Angker

Acara tersebut dihadiri jajaran kreator dan pemain, di antaranya produser Cece Berdali, komposer Jericho Escanderos, serta para pemeran seperti Titi Kamal, Anantya Kirana, Syakil Fauzi, Awfath Assegaf, Laras Sardi, Raffan Al Aryan, Delia Husein, Ajis Doa Ibu, Sidney Hakim, dan Kiki Narendra.

Awi Suryadi: Horor Terbesar Datang dari Kisah Keluarga

Bagi sutradara Awi Suryadi, Perumahan Laddaland memiliki posisi khusus dalam perjalanan kariernya. Meski dikenal melalui sejumlah film horor sukses, ia menyebut film ini sebagai salah satu karya paling emosional yang pernah dibuatnya.

“Ini film horor saya yang paling sedih,” ujar Awi.

Menurut Awi, kekuatan utama film ini tidak hanya terletak pada adegan teror, tetapi pada perjalanan keluarga Tommy dan Melisa dalam menghadapi tekanan hidup setelah pindah ke rumah baru.

Ia mengatakan, rasa takut yang dibangun dalam film tidak semata berasal dari sosok gaib, melainkan dari konflik dan beban yang harus dihadapi para karakter.

| Baca Juga: Studio Ghibli Rilis Film 'Night in The Valley of Witches', Hanya Bisa Ditonton di Lokasi Ini

“Horor terbesar sebenarnya datang dari beban hidup yang mereka hadapi. Buat saya, itu jauh lebih mengerikan daripada sekadar kemunculan hantu,” katanya.

Karena itu, Awi memastikan setiap elemen horor dalam film memiliki fungsi untuk memperkuat emosi cerita, bukan hanya menjadi kejutan bagi penonton.

Awi Suryadipun berbagi cerita mengenai pendekatan penyutradaraan yang digunakannya. Selama ini Awi dikenal lewat gaya visual yang dinamis dengan pergerakan kamera yang khas. Saat ditanya mengenai ciri tersebut, ia justru menjawab dengan candaan yang mengundang tawa.

“Saya rajin bikin movement kamera supaya enggak ngantuk di lokasi syuting. Daripada kameranya diam, ya diputar-putar saja,” kata Awi sembari tersenyum.

| Baca Juga: Film '402 Rumah Sakit Angker Korea' Debut di Bucheon, Dapat Sambutan Hangat Penonton

Titi Kamal: Cerita Melisa Dekat dengan Kehidupan Seorang Ibu

Titi Kamal yang memerankan Melisa menjadi salah satu karakter utama dalam film ini. Ia mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menerima tawaran bermain karena merasa cerita dan karakter yang dibawakan memiliki kedekatan dengan kehidupannya.

“Begitu ditawari Mas Awi, Mbak Lele, dan Pak Manoj, saya langsung bilang iya. Ceritanya sangat relate. Walaupun adaptasi dari film Thailand, ceritanya sudah disesuaikan dengan kehidupan keluarga Indonesia sehingga terasa dekat,” ujar Titi.

Dalam film, Melisa digambarkan sebagai seorang ibu yang memilih fokus mengurus keluarga. Ia berusaha menjadi tempat pulang bagi suami dan anak-anaknya.

Tetapi, Melisa juga harus menghadapi tekanan ketika rumah yang menjadi simbol harapan justru berubah menjadi ancaman.

| Baca Juga: Poster Film 'Paket Santet' Bikin Kaget, Wajah Yasamin Jasem Hancur dan Bengkak

Menurut Titi, tantangan terbesar dalam memerankan Melisa adalah menghadirkan emosi seorang ibu yang harus tetap kuat di tengah berbagai persoalan.

“Melisa harus bisa menampung semua keinginan suami dan anak-anaknya. Dia harus tetap menjadi rumah bagi mereka. Itu tantangan yang tidak mudah,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Desember 1981 itu.

Titi menilai film ini memiliki kekuatan karena tidak hanya menghadirkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

“Ini benar-benar tentang keluarga yang berjuang untuk kehidupan lebih baik. Ada perjuangan dengan KPR, ada ego antara suami dan istri. Jadi problematika rumah tangga yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Titi.

| Baca Juga: Dari Steven Spielberg Hingga Cillian Murphy, Ucapan Duka untuk Sam Neill Mengalir

Produser Cece Berdali mengungkapkan bahwa proses membawa Laddaland dari Thailand ke layar lebar Indonesia membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan hak adaptasi, tetapi bagaimana menciptakan versi baru yang memiliki identitas Indonesia.

"Yang kami inginkan adalah membuat versi Indonesia yang benar-benar dekat dengan kehidupan masyarakat kita,” ujar Cece.

Menurutnya, tim kreatif melakukan penyesuaian besar terhadap karakter, latar cerita, hingga konflik yang dihadirkan. Adaptasi tersebut dilakukan agar penonton dapat merasakan bahwa kisah dalam film ini bisa terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal.

“Penonton harus merasa bahwa cerita ini bisa saja terjadi di tempat mereka tinggal,” katanya.

| Baca Juga: Poster Fedi Nuril Mau Menangkap Bola di Film 'Bapakmu Kiper' Bikin Penasaran

Cece menambahkan bahwa kesalahan terbesar sang ayah dalam cerita justru terjadi sebelum keluarganya menempati rumah tersebut.

Dengan nada bercanda, ia mengingatkan pentingnya mengetahui latar belakang sebuah rumah sebelum memutuskan membelinya.

“Pelajaran pertama ketika membeli rumah, pastikan dulu rumahnya tidak angker,” katanya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: