Film 'Perumahan Laddaland', Kala Rumah Impian Jadi Sumber Teror dan Drama Keluarga Titi Kamal
“Melisa harus bisa menampung semua keinginan suami dan anak-anaknya. Dia harus tetap menjadi rumah bagi mereka. Itu tantangan yang tidak mudah,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Desember 1981 itu.
Titi menilai film ini memiliki kekuatan karena tidak hanya menghadirkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
“Ini benar-benar tentang keluarga yang berjuang untuk kehidupan lebih baik. Ada perjuangan dengan KPR, ada ego antara suami dan istri. Jadi problematika rumah tangga yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Titi.
| Baca Juga: Dari Steven Spielberg Hingga Cillian Murphy, Ucapan Duka untuk Sam Neill Mengalir
Produser Cece Berdali mengungkapkan bahwa proses membawa Laddaland dari Thailand ke layar lebar Indonesia membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan hak adaptasi, tetapi bagaimana menciptakan versi baru yang memiliki identitas Indonesia.
"Yang kami inginkan adalah membuat versi Indonesia yang benar-benar dekat dengan kehidupan masyarakat kita,” ujar Cece.
Menurutnya, tim kreatif melakukan penyesuaian besar terhadap karakter, latar cerita, hingga konflik yang dihadirkan. Adaptasi tersebut dilakukan agar penonton dapat merasakan bahwa kisah dalam film ini bisa terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal.
“Penonton harus merasa bahwa cerita ini bisa saja terjadi di tempat mereka tinggal,” katanya.
| Baca Juga: Poster Fedi Nuril Mau Menangkap Bola di Film 'Bapakmu Kiper' Bikin Penasaran
Cece menambahkan bahwa kesalahan terbesar sang ayah dalam cerita justru terjadi sebelum keluarganya menempati rumah tersebut.
Dengan nada bercanda, ia mengingatkan pentingnya mengetahui latar belakang sebuah rumah sebelum memutuskan membelinya.
“Pelajaran pertama ketika membeli rumah, pastikan dulu rumahnya tidak angker,” katanya. (*)







