VIVIA MEDIA — Setelah sukses besar lewat Oppenheimer, sutradara Christopher Nolan kembali menghadirkan proyek ambisius yang kali ini membawa penonton menjelajahi dunia mitologi Yunani kuno.

Melalui film The Odyssey, Nolan mengadaptasi karya sastra klasik karangan Homer menjadi film layar lebar dengan pendekatan modern tanpa kehilangan esensi cerita yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Mulai tayang di Indonesia pada 15 Juli 2026, The Odyssey mengisahkan perjalanan panjang Odysseus untuk kembali ke kerajaan Ithaka setelah Perang Troya.

Perjalanan itu bukan sekadar kisah kepulangan seorang pahlawan, melainkan petualangan yang dipenuhi tantangan, godaan, dan pertarungan melawan berbagai kekuatan yang menguji tekad serta keteguhannya.

| Baca Juga: Christopher Nolan dan Matt Damon Akan Tampil di 'You Quiz on the Block'

Film ini menjadi adaptasi blockbuster modern pertama dari karya Homer yang selama ini dikenal sebagai salah satu fondasi sastra Barat. Tantangan itulah yang justru menarik perhatian Christopher Nolan.

Sutradara Christopher Nolan saat proses produksi The Odyssey. Foto: Universal Pictures Indonesia

“Saya merasa tertantang untuk menciptakan dunia mitologi Yunani Kuno dan menceritakannya dengan cara yang belum pernah saya lakukan sebelumnya,” ujar Christopher Nolan dalam rilis yang dikirimkan Universal Pictures Indonesia pada Rabu (15/6).

The Odyssey menjadi film panjang pertama yang seluruh proses pengambilan gambarnya dilakukan menggunakan kamera film IMAX. Keputusan tersebut menghadirkan kualitas visual yang lebih detail sekaligus memperkuat skala dunia yang ingin dibangun Nolan di layar lebar.

Untuk mewujudkan dunia mitologi Yunani yang autentik, proses syuting dilakukan di enam negara, yakni Maroko, Yunani, Italia, Islandia, Skotlandia, dan Amerika Serikat.

| Baca Juga: Bak Dewi Yunani, Zendaya Kenakan Bra Daun di Premiere 'The Odyssey'

Lanskap alam dari berbagai belahan dunia dimanfaatkan untuk menghadirkan perjalanan Odysseus yang penuh tantangan sekaligus spektakuler.

Matt Damon yang memerankan Odysseus mengaku langsung menerima tawaran Christopher Nolan tanpa ragu. Menurutnya, proyek tersebut merupakan film terbesar yang pernah ia jalani sepanjang kariernya.

“Saya tidak berpikir dua kali ketika Nolan mengajak saya bergabung dalam proyek ini karena saya percaya pada visinya. Ini adalah film terbesar yang pernah saya perankan, baik dari segi skala produksi maupun ambisinya. Bahkan di momen-momen yang paling menantang sekalipun, The Odyssey menjadi pengalaman yang sangat mendalam dan menyenangkan,” kata Matt Damon.

Matt Damon bersama Zendaya dalam proses produksi film The Odyssey. Foto: Universal Pictures Indonesia

Bagi Damon, besarnya skala produksi berjalan seiring dengan kompleksitas cerita yang diangkat. Seluruh elemen produksi dirancang untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang terasa nyata, mulai dari lokasi syuting hingga teknologi yang digunakan.

| Baca Juga: Istri Adam Shulman, Anne Hathaway Berharap Anaknya Mirip Tom Holland

Sementara itu, Anne Hathaway memiliki alasan tersendiri menerima peran sebagai Penelope. Aktris peraih Academy Award tersebut mengaku telah mengenal dan mencintai kisah-kisah mitologi Yunani sejak masih duduk di bangku sekolah.

“Saya sudah jatuh cinta dengan mitologi Yunani sejak di bangku SMP. The Odyssey memiliki tempat spesial di hati saya,” ujar Anne Hathaway.

Kedekatan emosional itu membuatnya merasa memiliki hubungan yang lebih personal dengan cerita yang diadaptasi Nolan.

Head of Marketing Universal Pictures International, Julius Daniel Suhakri, mengatakan The Odyssey menjadi salah satu film yang menawarkan pengalaman sinematik berskala besar sekaligus emosional.

“The Odyssey adalah perayaan besar bagi para pecinta film di Indonesia. Christopher Nolan berhasil menghadirkan kisah klasik yang telah dikenal lintas generasi ke dalam pengalaman sinematik yang megah sekaligus emosional. Dengan jajaran pemain kelas dunia dan kekuatan cerita yang universal, kami mengajak penonton Indonesia untuk turut merasakan langsung perjalanan pulang Odysseus di layar lebar,” ujar Julius Daniel Suhakri. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: