VIVIA MEDIA — Bagi Iqbaal Ramadhan, kenangan yang paling melekat justru hal-hal sederhana. Duduk di warung kecil di depan sekolah dasarnya di Sorong, camilan sepulang sekolah, hingga perjalanan panjang yang membawanya menjadi aktor, musisi, sekaligus lulusan universitas di Australia.

Ketika kini dikenal sebagai salah satu aktor dan musisi muda Indonesia, Iqbaal lebih menekankan proses ketimbang pencapaian. Baginya, bertumbuh berarti berani terus belajar dan beradaptasi tanpa kehilangan nilai yang diyakini.

Prinsip itu yang juga menentukan setiap kolaborasi yang ia terima. Popularitas sebuah merek bukan alasan utama; ia lebih dulu ingin memahami orang-orang di baliknya dan nilai yang membuat mereka bertahan.

Prinsip itu pula yang membuatnya menerima tawaran menjadi duta sebuah merek camilan yang telah berdiri 25 tahun di Indonesia.

| Baca Juga: Iko Uwais Beberkan Kondisi Kehamilan Audy Item di Usia 43 Tahun

“Saya tidak hanya melihat produknya. Saya ingin tahu siapa orang-orang di baliknya, bagaimana mereka bekerja, dan nilai apa yang membuat mereka bisa bertahan begitu lama. Kalau ternyata kami punya cara pandang yang sama, di situlah kolaborasi terasa lebih bermakna,” ujar Iqbaal saat Perayaan 25 Tahun Gery di Pakubuwono, Jakarta, Rabu (15/7).

Cerita yang Dimulai dari Sorong

Lahir di Surabaya (28 Desember 1999), Iqbaal sempat tinggal di Makassar sebelum kemudian pindah ke Sorong, Papua Barat, pada 2003. Di sana ia rutin membeli camilan favoritnya di warung depan sekolah.

“Di Sorong tahun 2003 sampai 2004, saya sering beli Rice Crackers di warung depan sekolah. Sampai sekarang produknya masih ada,” kenangnya.

Kebiasaan itu bertahan meski keluarganya kemudian pindah ke Jakarta dan kariernya melesat bersama Coboy Junior. Camilan yang sama masih ia temukan di rider, ruang latihan, hingga backstage.

| Baca Juga: Rayakan Ultah Kucing yang ke-5, Ariel Tatum Buka Donasi untuk Kucing Jalanan

Camilan untuk Mobilitas Tinggi

Kesibukan syuting dan tur membuat Iqbaal, yang mengaku tak makan dalam porsi besar saat bekerja, mengandalkan camilan praktis. Dua hal penting baginya adalah rasa yang cocok. Iqbaal menyukai perpaduan manis dan asin lalu kemudahan mendapatkan camilan itu di berbagai kota maupun pulau.

Tidak Mengejar Tren Sesaat

Iqbaal enggan berkarya hanya karena sedang viral.

“Viral bisa hilang dua minggu atau dua bulan lagi. Kalau suatu hari saya sudah tidak ada, saya ingin karya-karya itu tetap hidup,” ujarnya.

Akting pun mengajarkan Iqbaal untuk memahami perspektif orang lain, sementara musik menjadi cara untuk kembali mengenali diri sendiri. Di luar dunia hiburan, ia menempuh pendidikan Media Communication di Monash University, Australia.

| Baca Juga: Ayah Naik Pangkat, Awkarin Tulis Pesan Haru

Keputusan mengambil studi itu lahir dari kesadaran bahwa popularitas tidak abadi.

“Ketika suatu saat ketenaran itu selesai, yang akan tetap tinggal adalah pengetahuan, pendidikan, dan orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan,” katanya.

Bertahan karena Terus Bertumbuh

Bagi Iqbaal, daya tahan puluhan tahun, baik individu maupun organisasi, lahir dari kemauan terus belajar dan berinovasi tanpa kehilangan jati diri. Nilai itulah yang ia temukan dalam kolaborasi terbarunya.

“Saya melihat mereka bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi terus menciptakan inovasi. DNA-nya adalah terus belajar, terus bertumbuh, dan terus beradaptasi,” ujarnya.

Iqbaal saat hadir di Perayaan 25 Tahun Gery
Iqbaal saat hadir di Perayaan 25 Tahun Gery. Foto: Istimewa

Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, menyebut pemilihan Iqbaal sebagai duta merek didasari karakternya yang autentik, kreatif, rendah hati, dan terus belajar. Nilai tersebut selaras dengan semangat merek tersebut.

Kisah Iqbaal Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar perjalanan seorang aktor atau musisi, melainkan cerita tentang seseorang yang terus menjaga rasa ingin tahu dan percaya bahwa bertumbuh adalah proses yang tak pernah selesai. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: