Para ahli menilai kasus Zendaya hanya menjadi contoh yang memperlihatkan praktik lama di pasar seni internasional.

Selama bertahun-tahun, berbagai artefak arkeologi, benda ritual, hingga peninggalan budaya dari Romawi, Mesir, Fenisia, dan Timur Tengah kerap diubah menjadi perhiasan atau benda dekoratif bernilai tinggi.

| Baca Juga: Dijodoh-jodohkan dengan Boiyen, Anwar BAB: Jodoh Nggak Ada yang Tahu

Padahal menurut para arkeolog, proses itu tidak hanya menghilangkan konteks sejarah, tetapi juga merusak nilai ilmiah artefak.

Pengeboran, pemotongan, hingga pemasangan batu permata dinilai bersifat permanen sehingga informasi penting mengenai asal-usul dan fungsi benda sulit dipulihkan.

Barron London mengidentifikasi anting yang dikenakan oleh Zendaya sebagai plakat emas Ziwiye dari Iran yang diperkirakan berasal dari milenium pertama sebelum Masehi.

Artefak tersebut diduga berkaitan dengan temuan harta Ziwiye di Kurdistan, Iran, yang sejak lama menjadi perdebatan karena sebagian besar benda dari lokasi itu beredar melalui pasar barang antik tanpa dokumentasi arkeologis yang jelas.

| Baca Juga: Nasib Kekasih Sarwendah, Foto Giorgio Antonio Lenyap dari Poster Seri 'Bunga di Tepi Jurang'

Para kritikus juga menyoroti praktik sejumlah galeri seni internasional yang memodifikasi artefak budaya menjadi karya dekoratif bernilai tinggi.

Mereka menilai transformasi tersebut sering kali mengaburkan asal-usul benda dan menyulitkan penelusuran apakah artefak berasal dari jalur perdagangan yang sah atau hasil penjarahan.

Bagi kalangan arkeolog, polemik yang melibatkan Zendaya bukan semata persoalan fashion.

Kasus itu kembali memunculkan perdebatan mengenai etika perdagangan benda bersejarah, perlindungan warisan budaya, dan tanggung jawab industri seni serta perhiasan dalam memperlakukan artefak kuno. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: