Punya Anak Soft Spoken, Ternyata Ini Pola Asuh yang Diterapkan Indah Permatasari
VIVIA MEDIA — Pasangan selebriti Indah Permatasari dan Arie Kriting kerap menjadi pusat perhatian publik. Bukan hanya karena keharmonisan rumah tangga mereka, melainkan karena pola asuh (parenting) mereka yang dinilai sukses menjadikan buah hati mereka Naka, menjadi sosok anak yang santun atau soft spoken.
Indah membagikan cerita mengenai tumbuh kembang putranya yang kini berusia empat tahun. Aktris berusia 29 tahun tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap sang anak yang menunjukkan perkembangan karakter luar biasa, bahkan di luar ekspektasinya sebagai orang tua.
Indah mengungkapkan bahwa Naka kini tumbuh menjadi cerminan nyata dari sosok ayahnya, Arie Kriting. Menurutnya, kemiripan tersebut tidak hanya sekadar pada aspek fisik, tetapi merambah hingga ke gestur dan kebiasaan sehari-hari yang sangat identik dengan komika asal Wakatobi tersebut.
"Dia (Naka) benar-benar menjadi duplikat bapaknya banget. Jadi kadang-kadang aku kalau melihat anak, itu benar-benar kayak melihat bapaknya," ujar Indah saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026).
| Baca Juga: Tren Baru Gen-Z: Detoks Media Sosial Demi Mental yang Lebih Sehat
Akris yang menikah pada 2021 itu merinci bahwa setiap gerak-gerik Naka seolah-olah adalah hasil kloning dari suaminya. Mulai dari ekspresi wajah saat berbicara, gaya berpakaian, cara berdiri yang khas, hingga cara bicara Naka disebut sangat menyerupai Arie Kriting. Ia meyakini hal ini terjadi secara alami karena pengaruh lingkungan rumah yang positif.
"Sebenarnya itu karena kebiasaan di rumah saja sih. Mungkin dia melihat orang tuanya, melihat bapaknya. Kalau aku masak, dia otomatis selalu bilang terima kasih. Kami memang berusaha memberikan hal-hal positif di rumah agar bisa dicontoh, karena anak pasti mencontoh orang tuanya," jelas Indah.
Celoteh Ala Dewasa yang Viral Tanpa Diajari
Selain sikap santunnya, Naka belakangan ini juga viral di media sosial karena kepiawaiannya dalam melontarkan kata-kata manis atau "gombalan" kepada sang ibu. Indah menegaskan bahwa ucapan-ucapan tersebut murni berasal dari pemikiran Naka sendiri tanpa pernah diajarkan sebelumnya.
Kejadian ini tak pelak membuat Indah terkejut sekaligus heran. Pasalnya, di usia yang baru menginjak empat tahun, pilihan kata dan cara bicara Naka dianggap terlalu dewasa dan sangat tertata.
| Baca Juga: Anak Tetap Prioritas, Begini Cara Baim Wong Atur Waktu di Tengah Kesibukan Film
"Gombal-gombal yang viral kemarin itu benar-benar riil dari ucapan dia. Kadang aku ketawa sendiri melihatnya. Aku sampai mikir, 'Ih, kenapa sih anak kecil kok begini? Apakah dia sudah pernah hidup sebelumnya?' Karena ucapannya dewasa banget, tidak seperti anak seumurannya," tutur Indah sembari tertawa.
Komitmen Parenting: Menjaga Karakter Positif
Meski merasa bangga dan bersyukur memiliki anak yang cerdas dan berperilaku baik, Indah Permatasari mengaku bahwa hal ini menjadi tanggung jawab besar atau 'Pekerjaan Rumah' (PR) baginya dan Arie Kriting. Ia sadar bahwa karakter positif anak tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.
"Satu sisi aku bersyukur, tapi di sisi lain ini jadi PR buat kami sebagai orang tua, sama Bang Arie. Sesuatu yang positif tidak mungkin kita lepas begitu saja. Kita harus melihat sisi-sisi mana yang akan terjadi ke depannya dan apa yang harus kita lakukan untuk menjaganya," tegas pemain film Wedding Agreement tersebut.
Indah menekankan pentingnya pendampingan konsisten agar karakter baik yang sudah terbentuk sejak dini tetap terjaga hingga Naka dewasa nantinya.
| Baca Juga: Indah Permatasari - Achmad Megantara Kenang Momen Kocak Syuting Film 'Ibadah dan Cinta' di Australia
Berbicara mengenai visi masa depan sebagai seorang ibu, Indah memiliki prinsip yang cukup modern dan reflektif. Ia tidak ingin menjadi sosok orang tua yang otoriter atau terlalu mendominasi kehidupan anaknya.
Tantangan Pola Asuh Beda Generasi
Bintang film Ibadah dan Cinta ini menyadari bahwa tantangan yang akan dihadapi generasinya akan jauh berbeda dengan generasi Naka di masa depan. Oleh karena itu, ia memilih pendekatan yang lebih cair, yakni dengan memposisikan diri sebagai teman bagi sang anak.
"Aku pengennya menjadi ibu yang baik saja, pengen berteman sama anak. Karena nanti generasi anak pasti beda banget sama generasi yang aku lewati saat kecil. Jadi PR-nya adalah bagaimana cara bisa berteman tanpa jarak yang terlalu jauh, tapi juga tidak menjadi terlalu dominan sebagai orang tua," jelasnya.
Indah juga mengingatkan bahwa predikat sebagai orang tua terkadang membuat seseorang lupa bahwa anak adalah individu merdeka yang memiliki perasaan.
"Kadang title orang tua membuat kita lupa kalau anak itu juga manusia. Jadi, aku harus berada di tengah-tengah. Semoga Naka menjadi anak yang baik, saleh, pintar, dan jenius. Amin," pungkasnya. (*)






