Setelah Lima Tahun Vakum, Anne J. Cotto Comeback di Film Horor
VIVIA MEDIA — Ada kejadian kecil yang justru mencuri perhatian saat para pemain film 'Juminten Edan' bertemu media di Jakarta. Bukan soal adegan horor atau cerita di balik layar, melainkan sepatu yang dipakai Anne J. Cotto tiba-tiba rusak beberapa saat sebelum acara dimulai. Situasi itu sempat membuat Anne panik.
Namun, aktris senior tersebut memilih tetap tenang. Dengan sedikit improvisasi, ia tetap melanjutkan konferensi pers hingga selesai. Momen itu bahkan berubah menjadi bahan candaan yang membuat suasana menjadi lebih santai.
"Sepatu saya malah rusak waktu pre-conference. Untung masih bisa diakali, jadi tetap lanjut acara," ujar Anne sambil tertawa yang langsung disambut gelak tawa para pemain dan awak media.
Di balik cerita lucu itu, film Juminten Edan menjadi penanda kembalinya ia ke dunia film setelah lima tahun vakum sejak menetap di Bali.
| Baca Juga: Meisya Amira jadi Istri Tunawicara yang Kerasukan di Film 'Juminten Edan'
Anne mengaku bersyukur masih dipercaya untuk kembali bermain film. Baginya, kesempatan ini menjadi awal yang menyenangkan setelah cukup lama tidak terlibat dalam produksi layar lebar.
"Alhamdulillah, setelah lima tahun saya pindah ke Bali, ini merupakan film pertama saya sejak menetap di sana. Saya mengucapkan terima kasih kepada produser dan sutradara atas kepercayaannya kepada saya untuk memerankan karakter Salma dalam film ini," katanya.
Dalam film arahan Dedy Mercy itu, Anne memerankan Salma, ibu dari Manto sekaligus mertua Juminten. Karakter yang dimainkan masih sejalan dengan peran-peran yang selama ini sering melekat padanya, yakni sosok ibu yang keras.
Anne sebenarnya berharap mendapat karakter yang lebih lembut. Namun, keinginannya belum terwujud.
| Baca Juga: Comeback Dunia Akting, Sonny Septian Akting Bareng Istri di Film Anak-Anak Bambu
"Biasanya karakter yang saya perankan sedikit barbar. Saya sempat berharap di film ini bisa menjadi sosok ibu yang lembut, tetapi ternyata tidak berhasil juga," ucapnya sambil tersenyum.
Bahkan, ia sempat berpesan kepada para penonton agar tidak meniru sifat Salma dalam kehidupan sehari-hari.
"Pesan saya untuk para ibu di Indonesia, jangan seperti Salma, ya."
Kesempatan kembali bekerja sama dengan Dedy Mercy juga menjadi alasan Anne langsung menerima tawaran bermain di film ini. Menurutnya, mereka sudah saling mengenal sejak lama saat sama-sama mengerjakan sinetron laga yang proses syutingnya berlangsung hampir setiap hari selama sekitar satu tahun.
| Baca Juga: Arya Saloka Gemetar Lakukan Ruqyah, Acha Septriasa Jadi Iblis Mengerikan di 'Munafik: Melawan Iblis'
"Terakhir saya syuting adalah untuk sinetron laga stripping dan kebetulan sutradaranya sama. Kami hampir satu tahun syuting setiap hari. Calling jam tiga atau empat pagi sudah biasa. Jadi ketika dihubungi lagi untuk bermain di film ini, tentu saya sangat senang," tuturnya.
Meski kini tinggal di Bali, Anne tetap serius mempersiapkan perannya. Ia rela terbang ke Jakarta hanya untuk mengikuti sesi reading bersama para pemain agar chemistry antarpemeran bisa terbangun sejak awal.
"Ini merupakan tahun pertama comeback saya untuk kembali bermain film, sehingga proses persiapannya benar-benar dilakukan dengan baik. Saya bahkan terbang dari Bali hanya untuk mengikuti reading dan membangun chemistry dengan para lawan main saya," katanya.
Pengalaman panjang di dunia akting membuat Anne lebih mudah membangun emosi karakter. Meski begitu, ia tetap aktif berdiskusi dengan sutradara agar setiap adegan sesuai dengan kebutuhan cerita.
| Baca Juga: Film Horor 'Paket Santet' Angkat Teror dari Kiriman Misterius
Ada pula pengalaman lain yang membuatnya terkesan. Sebelum syuting dimulai, tim tata rias sempat menghubunginya dan bertanya apakah gigi veneer yang dipakainya bisa dilepas demi kepentingan karakter. Anne justru tertawa karena sebenarnya ia tidak memakai veneer.
Menurutnya, pertanyaan itu menunjukkan keseriusan tim produksi yang benar-benar memperhatikan detail penampilan setiap pemain.
Menutup perbincangan, Anne berharap Juminten Edan tidak hanya menghadirkan cerita horor, tetapi juga menyampaikan pesan tentang hubungan dalam keluarga. Ia juga memuji kerja keras para pemain muda yang dinilainya tampil maksimal sepanjang proses produksi.
"Alhamdulillah jika hasilnya bisa terbentuk dengan baik dan emosi yang ingin disampaikan dapat tercapai. Untuk para pemain muda di film ini, mereka semua luar biasa. Tetapi yang tua juga tidak kalah, dong," tutup Anne sambil tersenyum. (*)







