Bukan Poster Atau Trailer, Film 'Penendang Bebas' Kenalkan Diri Lewat Demo Version
VIVIA MEDIA — Di tengah semakin besarnya perhatian masyarakat terhadap sepak bola dan eSports, proyek film panjang 'Penendang Bebas' hadir dengan cerita yang berbeda.
Film garapan rumah kreatif Bolalapan ini tidak bercerita tentang pemain sepak bola profesional, melainkan seorang pria paruh baya yang membentuk tim sepak bola virtual dari sebuah perkebunan tebu demi mengejar gelar juara nasional.
Menariknya, pertandingan eFootball dalam film ini bukan sekadar menjadi latar cerita. Di balik kompetisi tersebut, tersimpan perjalanan emosional seorang pria yang berusaha membuktikan dirinya, berdamai dengan masa lalu, dan mencari kembali bagian penting dalam hidup yang pernah hilang.
Sebagai langkah awal, Bolalapan memperkenalkan dunia 'Penendang Bebas' melalui sebuah demo version. Materi ini bukan cuplikan adegan film, melainkan pengenalan terhadap konsep cerita, karakter, suasana visual, hingga arah pengembangan proyek yang saat ini masih berada di tahap menuju pra-produksi.
| Baca Juga: Film 'Ketok Mejik', Kisah Musisi yang Berusaha Bangkitkan Lagi Bengkel Legendaris
Film ini disutradarai sekaligus digagas oleh Athpal Paturusi. Ia mengaku ide cerita tersebut telah dikembangkan sejak hampir satu dekade lalu melalui proses penulisan dan riset yang cukup panjang.
"Cerita ini lahir dari pengamatan saya terhadap kecintaan dan hausnya masyarakat Indonesia akan rasa menang ala sepak bola, sekaligus kedekatan banyak orang dengan game sepak bola seperti Winning Eleven, PES, FIFA, EAFC, hingga eFootball. Dari situ, saya melihat ada persimpangan menarik antara nostalgia, kemajuan zaman, dan kesempatan kedua dalam hidup," ujar Athpal Paturusi.
Menurut Athpal, kisah 'Penendang Bebas' juga berbicara tentang benturan antara perubahan dan tradisi. Latar perkebunan tebu dipilih untuk memperlihatkan bagaimana dunia modern, termasuk eSports, dapat tumbuh di lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
"Di balik cerita olahraga dan kompetisi, film ini bicara tentang lelaki paruh baya yang mungkin sudah dianggap selesai dalam pertempuran hidup, tetapi ternyata ia masih punya peluang untuk menunjukkan siapa dirinya," lanjut Athpal.
| Baca Juga: Baru Rilis, Drama China ‘Overdo’ Zhang Linghe dan Wang Churan Langsung Viral
Cerita tersebut juga diperkuat dengan berbagai fakta yang terjadi di dunia eFootball Indonesia. Salah satunya keberhasilan tim Indonesia menjadi juara dunia FIFAe World Cup 2024 setelah mengalahkan Brasil. Prestasi itu membuat Athpal semakin yakin bahwa sepak bola virtual mampu menghadirkan emosi yang sama besarnya dengan pertandingan sepak bola di lapangan.
"Selama masa pengembangannya, cerita ini diperkuat oleh fakta dan kisah nyata. Saya menyaksikan tim yang mewakili Indonesia, berhasil menjadi juara dunia eFootball di FIFAe World Cup 2024 dengan mengalahkan Brazil. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa kemenangan sepak bola juga bisa dirasakan secara mendalam melalui layar," katanya.
Bagi Athpal, eFootball menawarkan ruang cerita yang belum banyak dieksplorasi dalam perfilman Indonesia. Permainan ini bisa hadir di berbagai tempat, mulai dari arena kompetisi profesional, ruang keluarga, rental PlayStation, hingga perkebunan tebu yang menjadi lokasi utama film.
Lewat proyek ini, Bolalapan juga ingin memperkenalkan kekayaan cerita lokal yang memiliki peluang berkembang menjadi berbagai bentuk karya lain, mulai dari serial, animasi, hingga pengembangan intellectual property (IP) di masa mendatang.
| Baca Juga: Carissa Perusset Pelajari Budaya Papua demi Peran di Film Horor 'Suanggi: Ilmu Kutukan'
Saat ini, 'Penendang Bebas' masih berada dalam tahap pengembangan. Demo version yang telah dirilis menjadi pintu awal bagi publik, calon investor, sponsor, maupun mitra kreatif untuk melihat potensi cerita yang ditawarkan.
"Bagi kami, demo version ini adalah undangan pertama untuk melihat dunia cerita 'Penendang Bebas'. Kami ingin memperkenalkan gagasan, rasa, dan potensi cerita ini kepada publik, mitra kreatif, calon investor, sponsor, serta pihak-pihak yang percaya dengan keunikan karya film ini." tutup Athpal. (*)







