VIVIA MEDIA — Momen hari kebaya nasional yang hadir setiap 24 Juli akan dikisahkan berbeda. Djarum Foundation resmi meluncurkan film pendek 'Jalan Pulang' yang mengambil tema momen tersebut. Film ini akan membawa penonton kepada kisah-kisah personal yang melekat pada setiap helai kebaya.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menyatakan bahwa selama tiga tahun terakhir pihaknya berupaya memperlihatkan kebaya dari berbagai perspektif. Jika sebelumnya kebaya diposisikan sebagai ekspresi diri dan identitas budaya yang terus hidup, kali ini perhatian diarahkan pada cerita yang tersimpan di baliknya.

"Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini. Karena itu, merawat kebaya berarti juga merawat memori dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi,” ujar Renitasari Adrian di Jakarta pada Rabu (22/7/2026).

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui kisah Dara, seorang creative director muda yang dipercaya melakukan rebranding terhadap rumah mode kebaya legendaris milik Madame Yati. Berbekal sudut pandang yang modern, Dara mencoba membawa perubahan. Namun, berbagai ide yang ia tawarkan justru mendapat penolakan.

| Baca Juga: Perjuangan Adhisty Zara Perankan Pelari Pengidap Kanker di Film Rumah Singgah

Penolakan itu menjadi titik balik perjalanan Dara. Ia pulang ke rumah ibunya dan tanpa sengaja menemukan tumpukan kebaya lama yang hendak disumbangkan. Dari lembar demi lembar kain yang pernah dikenakan keluarganya, Dara perlahan menemukan kembali potongan-potongan kenangan yang selama ini terlupakan.

Film yang disutradarai oleh Bramsky ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube Indonesia Kaya pada 24 Juli 2026.

Sutradara Bramsky memilih menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih menyampaikan sejarah kebaya secara eksplisit, ia membangun cerita melalui relasi antargenerasi yang hangat, sehingga penonton diajak menemukan sendiri makna kebaya melalui pengalaman tokoh-tokohnya.

"Di balik setiap lipatan kainnya ada kenangan, ada rumah, ada ibu, ada keluarga, dan ada identitas yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika kita mencoba mencarinya kembali. Saya berharap film ini membuat kita tidak hanya ingin mengenakan kebaya, tetapi juga ingin mendengar dan meneruskan cerita yang dibawanya,” kata Bramsky.

| Baca Juga: Genap 55 Tahun, Lukman Sardi Dapat Kejutan Manis dari Keluarga di Tengah Kesibukan Syuting

Kekuatan cerita Jalan Pulang turut didukung jajaran pemain dari berbagai generasi. Tokoh Dara diperankan oleh Sheila Dara Aisha, peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2025 kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik lewat perannya sebagai Sore dalam film SORE: Istri dari Masa Depan.

Film ini juga menghadirkan aktris senior Widyawati, penerima Lifetime Achievement Award FFI 2018, serta Asri Welas yang memerankan Madame Yati, seorang desainer kebaya yang teguh menjaga nilai dan warisan yang dimilikinya.

Sementara itu, Sharon Sitania hadir sebagai representasi generasi muda yang menjadi jembatan antara tradisi dan kehidupan masa kini.

Bagi Sheila Dara Aisha, kisah Dara dalam 'Jalan Pulang' terasa sangat dekat dengan pengalaman pribadinya.

| Baca Juga: Baim Wong Duetkan Prilly Latuconsina dan Davina Karamoy di Film Drama Komedi

“Ketika membaca naskah Jalan Pulang, saya langsung merasa dekat dengan Dara. Perjalanannya membuat saya kembali menyadari bahwa di balik setiap kebaya selalu ada cerita tentang rumah, keluarga, dan perjalanan hidup yang membentuk diri kita,” jelas Sheila Dara.

Di balik layar, film ini mempertemukan sejumlah pekerja seni lintas disiplin. Skenario ditulis Widya Arifianti bersama Ayesha Alma Almera. Tata artistik digarap Dita Gambiro, tata suara dipercayakan kepada Anhar Moha, sementara musik disusun Ofel Obaja. Penataan busana oleh Hagai Pakan turut memperkuat penceritaan dengan menjadikan kebaya sebagai bagian penting dari perkembangan karakter, bukan sekadar elemen visual. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: